Benar, kebenaran, pembenaran..

Hallo, ya pagi ini saya mau nulis tentang benar, kebenaran, & pembenaran.. 

Ya, sebelum saya memulai tulisan saya kali ini, saya mau mengutip sebuah quote dari Leo Tolstoy "Kebenaran selalu sederhana & jujur. Kebohongan selalu rumit & berkelok²"

Ya, menurut saya ungkapan itu ada benernya sih. Kalo sesuatu itu benar, ya udah katakan aja sebenernya. Gak usah di buat rumit/ruwet & berkelok². Kalo sesuatu itu rumit/ruwet & berkelok², kemudian banyak sekali yang di tutup²i, kemudian ada beberapa hal yang saling menegasi/mengingkari, ya biasanya itu gejala atau indikasi awal kalo ada yang ndak benar. Biasanya.. hehehe.. 

Nah, mari kita lanjut ke topik pembahasan. Jadi benar, kebenaran, & pembenaran itu sebenernya apa sih? Kemudian kebenaran itu apa tergantung dari apa kata mas mas Bambang, Agus, Heri atau mas Eko yang kerja di bengkel?

Ehm, mohon maaf ya, nama² yang saya sebutkan di atas hanyalah sebuah ilustrasi & tokoh fiktif aja. Kalo terdapat kesamaan, itu hanya sebuah kebetulan aja..

Nah, kemudian sesuatu itu di katakan benar jika gimana sih? Kemudian pembenaran itu gimana sih? 

Ada yang udah clear dengan itu ndak? Atau barangkali masih banyak yang belum ngerti atau masih bingung? 

Nah, barangkali aja, ada yang masih belum ngerti atau masih bingung dengan definisi atau bedanya, yok kita diskusikan atau sharing sama². Kalo saya ada salahnya, saya terbuka aja untuk koreksi.. hehehe.. 

Nah, kemudian disini saya mencoba pake bahasa yang sederhana aja. Karena bagi saya yang penting gampang di mengerti. Karena kalo pake bahasa atau istilah yang rumit², aduh mesti cari lagi definisinya di internet. Sehingga ya udahlah, pake bahasa atau istilah yang sederhana aja. Yang penting anda ngerti ya udah.. hehehe.. 

Nah, sesuatu di katakan benar itu gimana sih? 

Ya, kalo menurut saya, sesuatu itu di katakan benar apabila sesuai dengan kenyataan/fakta. 

Jadi misal anda bolos kerja nih, tapi anda bilang ke teman anda kalo anda lagi kerja. Itu artinya tidak benar karena tidak sesuai dengan kenyataana atau fakta. 

Nah, kalo kebenaran itu apa? Ya kalo menurut chatgpt, kebenaran itu konsep atau nilai tentang apa yang benar.. 

Jadi misal dari contoh case tadi, anda bilang ke teman anda kalo anda lagi kerja, padahal anda lagi bolos, itu artinya anda lagi bohong atau informasi yang anda sampaikan ini tidak mengandung kebenaran karena tidak sesuai dengan fakta.. 

Nah, sekarang kalo pembenaran itu gimana? Ya kalo pembenaran itu artinya usaha membenarkan sesuatu yang tidak benar agar tampak benar. Misal anda datang terlambat karena telat bangun, tapi anda alasan macet. Padahal ya macetnya udah biasa & kalo anda ndak telat bangun, ya anda ndak datang terlambat meskipun macet. Tapi karena ada usaha untuk membenarkan, sehingga itu bisa di sebut dengan pembenaran...

Nah, apakah kebenaran itu tergantung dari apa kata mas Bambang, Agus, Heri atau mas Eko yang kerja di bengkel? Coba, menurut anda gimana? Hehehe..

Ya, kalo di lihat dari sifatnya, kebenaran itu tidak tergantung dari apa kata orang. Dia sifatnya independen atau berdiri sendiri. Sehingga dia sama sekali tidak bergantung dari subyek atau apa kata orang.. 

Nah, kalo si subyek atau orang tersebut menyampaikan sesuai dengan kenyataan, artinya dia menyampaikan sesuatu yang benar atau dia menyampaikan kebenaran. 

Kalo dia menyamapaikan sesuatu tidak sesuai dengan kenyataan, ya artinya dia bohong & tidak menyampaikan sesuatu yang benar atau menyampaikan ketidakbenaran..  

Sehingga faktor subyek ini sifatnya relatif & ada sisi subyektifnya. Dia menyampaikan sesuatu yang sesuai dengan kenyataan atau tidak? Kalo dia memyampaikan kebenaran, ya apa yang dia sampaikan sesuatu yang sesuai dengan kenyataan & berlaku sebaliknya. 

Nah, sehingga kenyataan tersebut, sama sekali tidak tergantung dari apa kata subyeknya. Kenyataan atau kebenaran itu independen & berdiri sendiri. Subyeknya yang bisa memyampaikan kebenaran atau ketidakbenaran..

Nah, oleh karena itu kebenaran itu tidak tergantung dari apa kata Bambang, Agus, Heri atau mas Eko. Karena mereka pada hakikatnya hanyalah subyek/orang yang memiliki sisi subyektif & ada potensi untuk menyampaikan sesuatu yang benar/tidak benar..

Nah, sekarang misal nih misal ada case perdebatan antara si A & si B tentang uang palsu. Si A menuduh si B kalo uangnya palsu. Nah, gimana untuk menyelesaikanya? 

Ya cara gampangnya tunjukan uangnya, kemudian konfirmasi ke penerbit uangnya ini asli atau palsu.. 

Nah, kalo penerbitnya udah bilang kalo itu asli, apakah lantas kita percaya 100% ke penerbit? 

Ya kembalikan lagi ke konsepnya kalo kebenaran itu sifatnya independen & berdiri sendiri. Kemudian dia tidak bergantung dari apa kata orang. Kemudian yang namanya orang ini ada sisi subyektif & kemungkinan/potensi untuk bohongnya. Sehingga ketika penerbit bilang asli, belum tentu 100% itu asli. Karena gimana kalo dia bohong? Kan ada potensi itu. Ya ndak? Hehehe.. 

Nah, sehingga solusinya gimana? Ya fokus ke obyeknya. Kriteria obyektif atau syarat uang itu di katakan asli gimana & palsu itu gimana? Kan pasti ada kriteria atau syarat obyektifnya. Sehingga yang menjadi prioritas disini adalah obyeknya bukan apa kata penerbitnya..

Memang penerbit ini memiliki otoritas untuk menentukan itu asli/palsu. Tapi ketika menentukan uang itu asli atau palsu, tentu dia juga punya & harus merujuk pada kriteria/syarat obyektif untuk menentukan uang itu asli atau palsu. Selama memenuhi kriteria atau syarat obyektif uang asli, ya artinya penerbit menyampaikan kebenaran kalo uang itu memang asli. Kalo penerbit tidak menyampaikan berdasarkan kriteria/syarat obyektif dari uang asli, kemudian dia asal bilang uang itu asli, padahal sebenernya uang itu palsu, ya artinya penerbitnya bohong.. 

Nah, oleh karena itu, ketika menentukan uang itu asli atau palsu, ya penerbit juga harus merujuk kembali pada kriteria atau syarat obyektif dari penentuan uang itu asli/palsu. Gak bisa penerbit asal bilang asli/palsu tanpa merujuk pada syarat/kriteria obyektif dari keaslian uang itu sendiri. 

Nah, oleh karena itu, konfirmasi ke penerbit ini juga salah satu cara/metode untuk menentukan uang itu asli & palsu. Tetapi jangan asal 100% percaya karena penerbit juga bisa bohong.

Nah, yang lebih penting atau menjadi prioritas untuk menentukan uang itu asli atau palsu, ya obyek dari uang itu sendiri. Seusai dengan syarat atau kriteria obyektif dari uang asli atau ndak? Kalo sesuai ya berarti asli, kalo ndak sesuai ya berarti palsu. Otiritas penerbit juga harus merujuk pada syarat atau kriteria obyektif untuk menentukan uang itu asli atau palsu. Gak bisa asal nyebut asli/palsu tanpa merujuk pada kriteria/syarat obyektif untuk menentukan uang itu asli atau palsu.

Nah, kemudian gak boleh juga menentukaan pake feeling atau di luar dari kriteria/syarat obyektif untuk menentukan uang itu asli/palsu.

Misal ah, feeling saya uangnya palsu tuh. Ah uangnya palsu tuh karena akun instagram dia di private atau belum centang biru. Atau ah uangnya palsu tuh karena dia tidurnya jam 8 malam.. 

Nah, jadi gak bisa menentukan uang itu asli/palsu pake feeling atau di luar kriteria/syarat obyektif untuk menentukan uang itu asli/palsu. Karena ya gak ada kaitan & hubunganya antara akun IG centang biru, di private, tidurnya jam 8 malam untuk menentukan uang itu asli/palsu..

Kalo menentukan uang itu asli/palsu dari akun IG yang centang biru, di private, atau tidurnya jam 8 malam, ya itu cara yang dobol & awur²an. Karena ya gak ada kaitan/hubungan/korelasinya antara uang itu asli/palsu dengan akun IG centang biru, di private, & tidurnya jam 8 malam.. 

Nah, oleh karena itu, untuk menentukan uang itu asli atau palsu, maka harus merujuk ke kriteria/syarat obyektif yang menentukan uang itu asli/palsu. Kemudian syarat/kriteria tersebut harus ada kaitan/hubungan/korelasinya. Bukan di kait²kan atau di paksa untuk terkait. Ya itu cara yang dobol & awur²an.. 

Nah, sehingga kurang lebih seperti itu contoh bagaimana cara untuk menentukan uang itu asli/palsu. Contoh uang asli atau palsu ini hanya sebuah contoh aja, tapi secara garis besar atau prinsipnya kurang lebih seperti itu & mungkin bisa di replikasi untuk contoh case yang lain.. hehehe.. 

Nah, sehingga inti & kesimpulanya, kebenaran itu sifatnya independen/berdiri sendiri & tidak bergantung dari apa kata orang. Karena yang namanya orang, tentu ada sisi subyektifnya & ada potensi untuk tidak menyampaikan sesuatu yang tidak benar. Untuk menentukan sesuatu itu salah atau benar, maka harus ada syarat obyektifnya & harus sesuai dengan kenyataan..

Kalo baik/buruk, enak/gak enak, suka/gak suka, itu relatif tergantung dari sisi subyektif masing² orang. Tiap orang beda².. hehehe..

Oke deh, kurang lebih seperti itu sedikit tulisan saya kali ini. Ya tulisan saya kali ini mungkin sifatnya hanyalah sebuah konsep dasar & normatif aja sih. Untuk pengaplikasianya ya tergantung dari case atau konteksnya.. hehehe..

Oke deh, kurang lebihnya mohon maaf & semoga bermanfaat..

Salam.. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sedikit Drama Dengan si "Bunga"

Dream Theater

Steve Vai