Rangkuman & Kesimpulan Drama Dengan si "Bunga"
Nah, jadi begini, sebelum saya memulai tulisan saya kali ini & untuk mempermudah penulisan, disini saya menggunakan istilah si “bunga” untuk menyebut yang bersangkutan, dengan ciri – ciri antara lain :
- Karir & domisili di jkt & sekitarnya
- Lebih tua dari saya (kelahiran antara 1986 – 1989)
- Pake “seragam”
Nah, itu untuk ciri – ciri si “bunga”..
Ya, saya memahami, untuk case kemarin ini memang
banyak banget asumsi, spekulasi, & isu – isu yang berkembang. Karena dugaanya
ada pihak – pihak yang dengan sengaja menghembuskan, mengorkestrasi, mempropaganda,
& mengolah isu – isu yang aneh -
aneh..
Sehingga orang yang mungkin ndak pernah
ada kaitan & urusanya dengan saya, mungkin jadi ikut – ikutan heboh & ribet
juga karena sudah terpengaruh & terjebak dengan propaganda isu – isunya. Ya ndak?
Anda juga gitu ndak? hehehe..
Nah, sehingga untuk case kemarin memang
banyak yang ikut heboh, ribet, atau bahkan mungkin udah ada yang sensi duluan
karena terpengaruh, terjebak, & hanya fokus dengan propaganda isu – isunya
aja. Tapi apa yang di hebohkan & ribetkan ini intinya urusan apa ya masih
banyak yang bingung & ndak ngerti juga. Ya ndak?
Nah, sehingga kan konyol, ikut heboh &
ribet, tapi apa yang di hebohkan & ribetkan ternyata masih belum ngerti
& bingung juga.. hehehe..
Nah, jika anda mungkin termasuk orang yang
demikian, itu artinya ya anda hanya fokus & terjebak dengan propaganda isu –
isunya aja. Tapi anda ndak ngerti & masih bingung dengan inti permasalahan,
substansi, konteks, & kronologinya gimana.
Sehingga jadinya ya begitu, ikut heboh
& ribet, tapi apa yang di hebohkan & ribetkan ini intinya apa ya masih
bingung & ndak ngerti juga.. hehehe..
Nah, oleh karena itu, agar anda tidak hanya
terjebak & fokus dengan propaganda isu – isunya, pahami inti permasalahan,
substansi, konteks, & kronologinya ya.
Karena ketika anda sudah paham dengan inti
permasalahan, substansi, konteks, & kronologinya, anda tidak mudah terjebak
& hanya fokus dengan pengaruh propaganda isu – isunya aja..
Kemudian anda jadi tidak mudah untuk di giring,
manfaatkan & jadikan alat, untuk di tunggangi & di bentur – benturkan dengan
propaganda isu – isunya.
Nah, oleh karena itu, agar anda tidak hanya
fokus & terjebak dengan propaganda isu – isunya, kemudian agar anda tidak
di manfaatkan & di jadikan alat untuk di bentur – benturkan oleh pengaruh
propaganda isu – isunya oleh pihak – pihak yang berkepentingan, pahami inti
permasalahan, substansi, konteks, & kronologinya dengan baik ya..
Karena jangan sampe anda dengan saya yang
gak pernah ada kaitan & urusan apa – apa dengan saya jadi agak gimana – gimana
karena anda sudah terjebak & terpengaruh dengan propaganda isu – isunya.
Nah, oleh karena itu silahkan anda baca tulisan
saya kali ini dengan baik & sampe habis ya. Karena saya akan mengulas inti
permasalahan, substansi, konteks, & kronologinya di tulisan saya kali ini.
Nah, sebelum saya melanjutkan tulisan saya
kali ini, saya sarankan anda untuk melepaskan dulu seluruh isu – isu yang
pernah anda terima. Kemudian jangan lupa gunakan nalar & akal sehatnya.
Tujuanya agar anda bisa lebih jernih, netral, & obyektif dalam memahami
substansi, konteks, & kronologinya.
Karena ketika anda sudah terpengaruh
dengan propaganda isu – isunya, kemudian anda tidak menggunakan nalar &
akal sehat anda, ya anda akan susah untuk bisa jernih, netral, & obyektif dalam
memahami substansi, konteks, & kronologinya. Karena anda sudah tendensius
karena pengaruh propaganda isu – isunya.
Nah, oleh karena itu, agar anda bisa lebih
netral, jernih, & obyektif dalam memahami substansi, konteks, &
kronologinya, lepaskan dulu seluruh isu – isu yang pernah anda terima ya.
Kemudian jangan lupa gunakan nalar & akal sehatnya.
Nah, kemudian tulisan saya kali ini
mungkin agak panjang. Sehingga anda santai & pelan – pelan aja bacanya.
Kalau masih belum paham silahkan di ulangi lagi gpp. Karena yang terpenting
adalah bukan seberapa cepat anda bisa membaca, tapi sejauh mana anda bisa
memahami substansi, konteks, & kronologinya. Karena percuma aja anda bisa
cepat membacanya tapi anda masih belum paham juga, kemudian masih mengulang –
ulangi hal yang udah saya bahas semua.
Nah, oleh karena itu, yang terpenting
adalah bukan seberapa cepat anda bisa membaca, tapi sejauh mana anda memahami
substansi, konteks, & kronologinya. Sehingga anda ngerti, ndak bingung,
& gampang terpropaganda dengan isu – isunya. Nah, oleh karena itu, santai
& pelan – pelan aja bacanya & kalo masih belum paham, silahkan di
ulangi lagi gpp..
Nah, oke mari masuk ke topik pembahasan ya..
Nah, sebelum saya melanjutkan tulisan saya,
ada baiknya saya kasi pertnyaan dulu. Jadi sebenernya intinya ini urusan apa?
Kemudian substansi, konteks, & kronologinya bagaimana? Kemudian yang saya
lakukan ini sebenernya ngapain? Apakah saya korupsi sampe merugikan berapa
ratus milyar? Apakah saya mencuri? Atau saya melakukan tindakan kriminal lain?
Kok kesanya heboh & ribet banget?
Nah udah ada yang udah ngerti atau clear
soal itu ndak? Hehehe..
Kalo masih belum ngerti & masih bingung,
silahkan lanjut bacanya..
Nah, jadi untuk konteks saya kemarin ini
sebenernya murni urusan personal/pribadi seorang oknum. Ya bisa di bilang
urusan anak muda lah. Kemudian yang saya lakukan ini sebenernya ya hanya &
baru sebatas CHAT untuk KENALAN
& NGAJAK KOMUNIKASI aja. Hanya & baru sebatas itu..
Nah, jadi yang saya lakukan ini intinya ya
hanya & baru sebatas itu. Bukan korupsi sampe merugikan berapa ratus
milyar, mencuri, atau tindakan kriminal lainya.
Nah, kemudian sampe saya menulis tulisan
ini juga Alhamdulillah gak pernah ada & jangan sampe ada catatan kriminal
apapun. Sehingga untuk case kemarin, yang saya lakukan ini hanya & baru
sebatas CHAT untuk KENALAN &
NGAJAK KOMUNIKASI aja.
Sehingga ya ini sebernya urusan sepele,
ndak ada artinya, bukan tindakan kriminal, masih dalam tahap normal, wajar,
lumrah, & banyak di lakukan anak jaman sekarang juga.
Anda pernah CHAT untuk KENALAN
& NGAJAK KOMUNIKASI dengan orang lain juga ndak? Kalo pernah, intinya
ya sama aja, yang saya lakukan ini mungkin pernah anda lakukan juga.
Oleh karena itu, yang saya lakukan ini
sebenernya ya hal yang sangat sepele, ndak ada artinya, masih dalam tahap
normal, wajar, & banyak di lakukan anak jaman sekarang. Kemudian saya kira
juga bukan tindakan kriminal juga..
Kalo di bandingkan dengan maling sandal
atau maling permen Rp. 500an, aja masih lebih parah maling sandal & permen
Rp. 500an karena dia mencuri.
Nah, oleh karena itu, untuk case kemarin
ini saya kira ya bukan tindakan kriminal juga. Urusan sepele yang ndak ada
artinya banget lah. Kemudian ya masih dalam tahap wajar, normal, lumrah, &
banyak di lakukan anak jaman sekarang juga.
Nah, kalo anda berpikir, “ealah,
cuman begitu aja to, kirain apa”. Ya kalo anda paham, intinya ya hanya
& baru sebatas itu aja. Sehingga ya sepele banget kan?
Nah, kemudian kalo anda berpikir
lagi “Kenapa urusan sepele banget, ndak ada artinya, bukan termasuk
tindakan krinimal, masih dalam tahap lumrah, wajar, normal, & banyak di
lakukan anak jaman sekarang kesanya kok heboh & ribet banget?”
Nah, itu juga yang saya ndak ngerti
pastinya, hanya saja dugaan saya antara lain karena :
- Sudah menjadi konsumsi publik.
- Tidak adanya upaya untuk konfirmasi &
klarifikasi terbuka di depan.
- Terjadi pada oknum yang dekat dengan “orang
penting”
- Ada nuansa di politisasi atau di tumpangi
“kepentingan”.
Nah, oleh karena itu, urusan yang
sebenernya sepele banget, ndak ada artinya, masih dalam tahap normal, lumrah,
wajar, & banyak di lakukan anak jaman sekarang, kesanya jadi heboh &
ribet banget.
Padahal kalo anda ngerti, di puter – puter
intinya ya itu aja. Murni urusan personal/pribadi seorang oknum, kemudian yang
saya lakukan ini hanya & baru sebatas CHAT untuk KENALAN
& NGAJAK KOMUNIKASI aja. Ya itu aja..
Nah, oke mari kita bahas satu per satu kenapa
urusan yang sebenernya sepele & ndak ada artinya kesanya jadi heboh &
ribet banget..
Menurut saya kenapa urusan yang sepele begini
kesanya jadi heboh & ribet banget, yang pertama karena urusan tersebut
sudah menjadi konsumsi publik.
Nah, dari awal saya sebenernya kurang setuju
& sudah menyampaikan ke yang bersangkutan, kalo tidak perlu menjadikan
urusan personal & pribadi jadi konsumsi publik. Karena ya apa urgensinya
juga sih menjadikan urusan personal/pribadi jadi konsumsi publik? Kan ya gak
ada juga. Kemudian toh ya udah sama – sama dewasa juga, sehingga di bicarakan
atau komunikasikan baik – baik sebenernya kan ya bisa, ndak perlu di jadikan
konsumsi publik. Sehingga ya ndak ada urgensinya juga sebenernya menjadikan
urusan personal/pribadi jadi konsumsi publik.
Nah, alasan saya yang lain saya kurang setuju
ketika menjadikan urusan personal/pribadi jadi konsumsi publik adalah, ketika
urusan sudah menjadi konsumsi publik, maka :
- Akan banyak kepala yang terlibat.
- Akan banyak asumsi & spekulasi yang tercipta
Nah, sehingga bukanya simpel malah tambah
ruwet. Oleh karena itu, dari awal sebenernya saya kurang setuju & sudah
menyampaikan ke yang bersangkutan kalo ndak perlu menjadikan urusan personal/pribadi
jadi konsumsi publik.
Nah, tapi yang terjadi akhirnya jadi
konsumsi publik juga. Sehingga siapa yang menjadikan urusan ini jadi konsumsi
publik?
Saya kira anda sudah bisa berpikir &
menganalisa sendiri untuk bisa menjawabnya.. hehehe..
Nah, kemudian ketika urusan sudah menjadi
konsumsi publik, seharusnya di konfirmasi atau klarifikasi terbuka di depan kan
ya selesai. Sehingga ndak perlu di buat ruwet & jadi polemik
berkepanjangan.
Nah, kalo ini ndak, udah bukan saya yang
menjadikan urusan ini jadi konsumsi publik, ketika sudah menjadi konsumsi
publik, eh ndak ada upaya untuk konfirmasi & klarifikasi terbuka di depan.
Sehingga ya terkesan di biarkan aja bergulir jadi bola liar, polemik
berkepanjangan, & ndak ada solusi pertanggung jawabanya.
Sehingga udah berbuat, eh ndak ada solusi
pertanggung jawabanya.
Nah, meskipun bukan saya yang menjadikan
urusan ini jadi konsumsi publik, saya sudah menyampaikan ke yang bersangkutan
untuk tidak menjadikan urusan ini jadi konsumsi publik, kemudian urusan ini
akhirnya jadi konsumsi pubik juga, kemudian sampe saya menulis tulisan ini ndak
ada solusi pertanggung jawabanya, kemudian karena ada kaitanya dengan saya, oke
disini saya mau klarifikasi ya..
Nah, mari kita masuk ke kronologinya..
Nah, jadi begini, ketika pertengahan tahun
2019 kemarin, saya dapat info kalo si “bunga” ini lagi jomblo. Ya yang namanya
anak muda, ya gak ada salahnya untuk coba KENALAN & NGAJAK
KOMUNIKASI aja kan?
Sehingga saya kira yang saya lakukan ini
bisa di bilang masih normal, lumrah, wajar, & banyak di lakukan anak jaman
sekarang juga lah..
Nah, sehingga waktu itu ya saya cari akun
sosial medianya, saya follow, saya komen, saya like, & banyak cerita lewat
dm. Ya seperti orang CHAT untuk KENALAN
& NGAJAK KOMUNIKASI biasa aja seperti orang kebanyakan
lah. Sehingga ya masih normal, lumrah, & wajar – wajar aja sebenernya,
seperti yang di lakukan orang kebanyakan..
Nah, kemudian waktu itu memang saya
ada NIAT/RENCANA/WACANA untuk ke Jkt untuk
mengikuti program inkubasi bisnis. Ya semacam program pelatihan bisnis gitu
lah, kemudian nanti kalo udah lulus semacam ada investornya yang memodali
bisnisnya gitu lah.
Nah, oleh karena itu, ya kebetulan dong,
saya ada NIAT/RENCANA/WACANA untuk ikut program
inkubasi bisnis di Jkt, kemudian si “bunga” ini karir & domisilinya di Jkt.
Sehingga kalo mau kenalan lebih lanjut ya bisa lebih dekat lah ndak perlu repot
– repot.
Nah, sehingga NIAT/RENCANA/WACANA saya
untuk ke Jkt waktu itu ada 2, antara lain :
- Mau ikut program inkubasi bisnis
- Biar lebih dekat dengan si “bunga”.
Oke, jadi sampe disini udah clear ya NIAT/RENCANA/WACANA saya
untuk ke Jkt ini untuk apa.
Nah, tapi waktu itu saya masih ada urusan
yang harus saya selesaikan di Surabaya, sehingga ya udah saya selesaikan urusan
saya dulu di Surabaya sampe akhir tahun 2019.
Nah, ketika urusan saya di Surabaya sudah
selesai, saya ingin melanjutkan NIAT/RENCANA/WACANA saya
untuk ke Jkt. Tapi waktu itu Jkt di guyur hujan lebat & banjir hebat.
Banyak rumah – rumah yang tenggelam karena banjir.
Nah, kemudian waktu itu, ketika saya sudah
coba untuk proaktif CHAT si “bunga”, sampe saya
menulis tulisan saya kali ini masih TIDAK ADA RESPON juga.
Sehingga ya udah, akhirnya saya
membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA saya untuk ke
Jkt. Karena ya mau ngapain saya ke Jkt kalo gak ada tujuan yang jelas? Saya mau
ikut program inkubasi bisnis, tapi waktu itu Jkt lagi di guyur hujan lebat
& banjir hebat. Kemudian saya mau menemui si “bunga”, sampe saya menulis tulisan
saya kali ini ya masih TIDAK ADA RESPON juga.
Sehingga ya udah ngapain juga saya ke Jkt kalo gak ada tujuan yang jelas? Mau
ketemu siapa, mau ketemu dimana, mau ketemu kapan, mau bahas apa, gimana kalo
serba gak jelas?
Nah, oleh karena itu, waktu itu saya
membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA saya untuk ke
Jkt karena tidak ada alasan & tujuan yang jelas buat saya untuk ke Jkt..
Nah, seandainya waktu itu si “bunga”
konfirmasi saya, setidaknya masih ada 1 dari 2 alasan jelas buat saya untuk ke
Jkt. Sehingga meskipun hujan lebat atau banjit hebat, setidaknya masih ada 1
dari 2 alasan jelas bagi saya untuk ke Jkt.
Nah, karena saya udah berusaha untuk
proaktif membuka jalur komunikasi dengan si “bunga”, kemudian sampe saya
menulis tulisan saya kali ini masih TIDAK ADA RESPON juga,
kemudian mau ikut program inkubasi bisnis di Jkt, tapi waktu itu Jkt lagi hujan
lebat & banjir hebat, ya udah sehingga ya saya gak ada tujuan & alasan
yang jelas untuk ke Jkt.
Nah, tapi disini dugaanya & saya merasa
kalo dia ini ngarep & nungguin saya. Ya ndak?
Kemudian dia agak marah ketika saya
membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA saya untuk ke Jkt.
Kemudian dia merasa & propaganda ke orang lain kalo saya ini ingkar janji,
janji manis, dsb karena saya tidak jadi atau membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA
saya untuk ke Jkt.
Lho ini gimana to? Saya udah berusaha
untuk proaktif membangun komunikasi dengan dia, tapi sampe saya menulis tulisan
kali ini, dia yang TIDAK MERESPON, sehingga saya
membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA untuk ke Jkt, kok saya
yang di tuduh ingkar janji atau janji manis?
Ya ndak bisa dong, wong dia sendiri yang TIDAK
MERESPON ketika saya sudah berusaha untuk
proaktif membangun jalur komunikasi, kemudian ketika saya ndak jadi atau
membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA saya untuk ke Jkt, kenapa saya
yang di salahkan & di tuduh ingkar janji atau janji manis? Nah, gak jelas
kan?
Nah, kemudian orang yang hanya & baru
sebatas NIAT/RENCANA/WACANA itu ndak harus selalu
terwujud. Bisa tidak terwujud kalo ada halanganya. Sehingga yang namanya NIAT/RENCANA/WACANA itu
boleh & bisa – bisa aja di batalkan misal ada halangan yang
membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA tersebut.
Nah, halangan yang membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA saya
untuk ke Jkt kan udah jelas seperti yang udah saya sebutkan di pembahasan
sebelumnya, yaitu :
- Saya mau ikut program inkubasi bisnis di Jkt tapi
waktu itu Jkt lagi hujan lebat & banjir hebat. Banyak rumah yang
tenggelam karena banjir.
- Saya sudah berusaha untuk proaktif membangun
jalur komunikasi dengan si “bunga” tapi sampe saya menulis tulisan saya
kali ini, saya masih belum mendapatkan atau TIDAK ADA RESPON dari
si “bunga”.
Nah, oleh karena beberapa halangan
tersebut, saya membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA saya
untuk ke Jkt. Karena ya ngapain saya ke Jkt kalo gak ada tujuan atau alasan
yang jelas? Saya mau ketemu siapa, mau ketemu dimana, mau ketemu kapan, mau
bahas apa, gimana kalo serba gak jelas?
Nah, kemudian ya mana saya tau dia ngarep &
nungguin saya, karena ketika saya sudah berusaha untuk proaktif membuka jalur
komunikasi, tapi sampe saya menulis tulisan saya kali ini, saya juga TIDAK
MENDAPATKAN RESPON apa – apa.
Karena TIDAK ADA RESPON,
ya udah, saya membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA saya untuk
ke Jkt.
Nah, oleh karena itu, saya salah ndak
misal saya membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA saya
untuk ke jkt?
Nah, sehingga sampe disini udah jelas ya
apa yang menyebabkan saya membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA saya
untuk ke Jkt? Kemudian udah jelas juga ya siapa yang buntu & buntunya dimana?
Nah, sehingga semoga udah terjawab
mengenai isu janji manis, ingkar janji, dan sebagainya.
Nah, untuk memantapkan pemahaman anda,
saya kasi analogi atau contoh kasus begini.
Jadi, anda ada NIAT/RENCANA/WACANA untuk
main ke rumah teman anda. Kemudian anda WA teman anda, tapi dia TIDAK
MERESPON WA anda. Sehingga anda membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA untuk
main ke rumah dia karena WA anda TIDAK DI RESPON. Anda
sudah berusaha untuk proaktif WA dia, tapi dia sendiri yang TIDAK
MERESPON.
Sehingga anda salah ndak misal anda
membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA anda untuk main
ke rumah teman anda karena anda TIDAK MENDAPATKAN RESPON
dari teman anda ketika anda sudah berusaha untuk proaktif WA dia?
Ya ndak salah bos, wong anda sudah
berusaha untuk proaktif WA teman anda, tapi teman anda yang TIDAK
MERESPON, jadi ya anda ndak salah & bukan salah anda ketika
anda membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA anda untuk
main ke rumah teman anda.
Nah, sehingga siapa yang salah ketika anda
membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA anda untuk main
ke rumah teman anda? Ya jelas teman anda yang salah karena dia TIDAK
MERESPON WA anda.
Nah, kemudian misal teman anda marah –
marah ke anda karena anda membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA untuk
main ke rumahnya. Kemudian menyebut anda janji manis, ingkar janji, gak tepat
janji, dsb. Dia salah ndak?
Ya, kalo teman anda marah – marah ke anda
karena anda membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA anda
untuk main ke rumah dia, ya tambah salah lagi dia. Karena dia sendiri
yang TIDAK MERESPON WA anda sehingga anda
membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA untuk main ke
rumahnya dia, kok dia yang marah – marah karena anda membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA anda
untuk main ke rumahnya dia. Kemudian nuduh anda ingkar janji & janji manis.
Sehingga sumber masalahnya & yang
salah ya teman anda karena dia TIDAK MERESPON WA
anda sehingga anda membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA anda
untuk main ke rumahnya. Kemudian ya dia tambah salah lagi misal dia marah –
marah ke anda & ngatain anda janji manis, janji palsu, ingkar, janji, dst.
Nah, sehingga sampe disini paham ya dengan
contoh kasus atau analogi yang saya berikan?
Nah, analogi atau contoh kasus tersebut
sebenernya sama dengan konteks saya dengan si “bunga”. Saya membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA saya
untuk ke Jkt karena saya sudah berusaha untuk proaktif membangun jalur
komunikasi dengan si “bunga”, tapi sampe saya menulis tulisan saya kali ini,
saya masih TIDAK MENDAPATKAN RESPON juga dari si “bunga”.
Nah, sehingga saya salah ndak misal saya membatalkan
NIAT/RENCANA/WACANA saya untuk ke Jkt?
Kemudian siapa yang salah misal saya membatalkan
NIAT/RENCANA/WACANA saya untuk ke Jkt?
Intinya begini, kalo emang udah TIDAK
ADA RESPON, ya udah, ngapain di lanjutkan juga? Kan gitu, ya
ndak?
Nah, sehingga udah clear ya. Semoga untuk isu ingkar janji
& janji manis, dsb ini udah clear semua..
Nah, kemudian mari kita bahas soal status
saya dengan si “bunga”. Jadi sebenernya status saya dengan si “bunga” ini apa?
Apakah teman, pacar, hubungan suami/istri, atau mantan, atau selingkuhan? Nah,
apa coba? Oke, mari kita bahas satu per satu..
Nah, sebelum kita membahas masalah status
hubungan saya dengan si “bunga”, ada baiknya kita samakan persepsi mengenai
definisi beberapa jenis status hubungan. Penting untuk menyamakan persepsi
definisi ini agar kita memiliki satu pandangan & tidak ada perdebatan. Oke,
kita bahas definisinya satu per satu ya..
- Teman. Teman adalah status hubungan yang tidak
terikat gender/jenis kelamin (bisa terjadi antara laki - laki &
perempuan, laki - laki dengan laki - laki, perempuan dengan perempuan)
kemudian tidak ada perasaan spesial atau khusus "cinta" yang
terjalin antara masing - masing individu & tidak ada rencana
untuk melanjutkan hubugan ke arah yang lebih serius ke jenjang pernikahan.
Status hubungan teman ini bisa terbentuk karena biasanya ada kesamaan
tertentu misal pernah sama - sama ketemu, pernah sama - sama satu sekolah,
sama - sama pernah terlibat dalam project tertentu, dsb.
- Pacar. Pacar adalah status hubungan yang
terbentuk antara laki - laki & perempuan (konteks hubungan normal),
kemudian ada perasaan khusus "cinta" di dalam hubungan ini,
kemudian ada rencana untuk melanjutkan ke arah hubungan yang lebih serius
ke jenjang pernikahan. Di dalam status hubungan ini, sifatnya masih
informal, masih belum di sahkan oleh agama & negara. Sehingga bisa di
bilang dalam status hubungan ini, masing - masing individu masih dalam
tahap ingin mengenali pribadi masing - masing secara lebih mendalam
sebelum berkomitmen bersama untuk melanjutkan hubungan ke arah yang lebih
serius yaitu hubungan pernikahan. Nah, karena masih belum di sahkan oleh
agama & negara, maka disini jika tidak terjadi kecocokan, maka masing
- masing individu boleh untuk memutuskan tidak melanjutkan hubungan
tersebut tanpa harus di sahkan oleh agama & negara. Jadi ya kalo di
rasa ndak ada kecocokan, jadi ya udah boleh langsung cabut aja tanpa harus
di sahkan oleh agama & negara.
- Suami/istri. Suami istri ini sebenernya secara
prinsip hampir sama dengan status hubungan pacar. Tetapi bedanya disini
sudah di sahkan oleh agama & negara. Sehingga masing - masing individu
sudah berkomitmen untuk hidup bersama & di sahkan oleh agama &
negara. Sehingga apabila di tengah jalan tidak ada kecocokan & ingin
pisah, maka ada proses administrasi yang di butuhkan. Gak bisa asal cabut
aja seperti hubungan pacar karena sudah di sahkan oleh agama & negara.
- Mantan. Mantan ini status hubungan antara 2
individu yang pernah terikat hubungan pacar atau suami/istri, tetapi sudah
putus/pisah karena hal tertentu.
- Selingkuhan. Selingkuhan ini adalah status
hubungan yang terbentuk antara individu yang masing - masing individu atau
salah satunya sudah terikat hubungan pacar atau suami/istri, kemudian
individu ini menjalin hubungan baru dengan individu lain tanpa sepengetahuan
atau persetujuan dengan pasangan sebelumnya. Sehingga ya hubungan gelap
& main belakang lah
Nah, sehingga kita buat kesepakatan untuk
menyamakan persepsi penggunaan definisi tersebut ya..
Nah, dari definisi tersebut, jadi status
hubungan antara saya dengan si “bunga” ini sebenernya apa? Apakah teman, pacar,
hubungan suami/istri, mantan, atau selingkuhan? Oke, kita bahas satu per satu
ya..
Nah, masih ingat ndak yang saya lakukan
ini sebenernya ngapain?
Nah, kalo anda masih ingat, yang saya
lakukan ini sebenernya hanya & baru sebatas CHAT untuk KENALAN
& NGAJAK KOMUNIKASI aja. Kemudian karena TIDAK
ADA RESPON, sehingga antara saya dengan si “bunga” masih belum
ada KESEPAKATAN/IKATAN/HUBUNGAN apa – apa.
Nah, sehingga ya antara saya dengan si
“bunga” TIDAK ADA HUBUNGAN APA – APA atau
si “bunga” ini BUKAN SIAPA – SIAPA SAYA.
Nah, udah jelas ya mengenai status
hubungan antara saya dengan si “bunga” ini apa?
Nah, karena dugaanya, sempat muncul isu
yang aneh – aneh kalo saya ini mantanya si “bunga”, pacarnya si “bunga”,
kemudian ada isu saya selingkuh, buaya, dsb..
Lho, ini gimana to? Wong saya ini hanya
& baru sebatas CHAT untuk KENALAN
& NGAJAK KOMUNIKASI aja, kemudian saya ini sampe
menulis tulisan saya kali ini ya TIDAK ADA RESPON juga,
sehingga antara saya dengan si “bunga” ini masih belum ada KESEPAKATAN/IKATAN/HUBUNGAN apa
– apa kok bisa – bisanya, muncul dugaan isu yang bilang saya pacarnya si
“bunga” lah, mantanya si “bunga” lah, saya selingkuh lah, saya buaya lah, saya
playboy lah, dst.
Wong komunikasi 2 arah aja belum, ketemu
belum, jalan belum, jadian juga belum, kok bisa – bisanya misal ada atau muncul
demikian? Oleh karena itu, gak jelas banget kan?
Nah, oleh karena itu, jujur saya ini juga
merasa aneh & gak jelas ketika muncul isu yang demikian. Padahal saya hanya
& baru sebatas CHAT untuk KENALAN &
NGAJAK KOMUNIKASI aja. Kemudian sampe saya menulis tulisan saya
kali ini, saya juga TIDAK MENDAPATKAN RESPON apa – apa.
Sehingga ya antara saya dengan si “bunga” ini masih belum terjadi & ada KESEPAKATAN/IKATAN/HUBUNGAN
apa – apa. Dengan kata lain, si “bunga” ini BUKAN SIAPA – SIAPA
saya & saya TIDAK ADA HUBUNGAN APA - APA dengan si “bunga”.
Nah, oleh karena itu, saya juga merasa aneh
& gak jelas misal ada isu yang nyebut saya mantanya si “bunga”, pacarnya si
“bunga”, kemudian saya selingkuh, saya playboy, saya buaya, intinya isu gak jelas
& aneh – aneh lah.
Makanya, kalo ada isu yang aneh – aneh, jangan
asal di telan aja. Pahami dulu inti permasalahan, substansi, konteks, &
kronologinya. Kemudian selalu gunakan nalar & akal sehatnya. Karena kalo
gak gitu, ya anda hanya akan di giring & terpropaganda dengan isu yang aneh
– aneh & gak jelas lainya.
Oleh karena itu, dari awal saya tekankan, kalo
ada isu yang aneh – aneh, jangan ragu, kuatir, atau takut untuk konfirmasi
& klarifikas langsung ke saya aja. Daripada nanti anda terjebak dengan
propaganda isu aneh – aneh yang lainya.
Saya sangat terbuka untuk itu & monggo
silahkan konfirmasi & klarifikasi aja. Karena seharusnya, ndak ada yang
perlu di kuatirkan misal untuk konfirmasi atau klarifikasi benernya gimana..
Kemudian seharusnya juga gak ada yang boleh
nglarang. Karena ya ngapain orang mau konfirmasi & klarifikasi kok pake di
larang segala? Kan seharusnya bebas orang mau konfirmasi & klarifikasi
untuk tau benernya juga kok.
Nah, kalo ada yang nglarang atau nutup – nutupi,
ya biasanya itu ada dugaan atau indikasi sesuatu yang ndak benernya..
Nah, oleh karena itu, kalo emang mau
konfirmasi atau klarifikasi, jangan ragu atau kuatir, karena saya juga terbuka
aja kok & malah seneng sebenernya agar tidak terjadi hoax atau fitnah yang
tidak terkendali..
Sehingga kalo ada isu – isu yang lain,
konfirmasi atau klarifikasi langsung aja ya. Saya terbuka aja & malah senang
dengan itu.
Nah, pertanyaan selanjutnya, boleh ndak saya
membangun hubungan dengan siapapun? Kemudian si “bunga” punya hak ndak untuk
melarang saya berhubungan dengan siapapun? Nah, coba jawabanya apa? Hehehe..
Ya jelas boleh – boleh aja bos. Karena kita
menjalin hubungan, berelasi, berserikat, berkumpul dengan siapapun, itu bagian
dari hak asasi. Sehingga ya itu hak asasi setiap orang & gak boleh ada yang
melarang. Kalo di langgar, ya artinya ada pelanggaran hak asasi disana.
Nah, kemudian kalo melihat status hubungan
antara saya dengan si “bunga”, antara saya dengan si “bunga” kan ya gak ada
hubungan apa – apa, dengan kata lain si “bunga” ini juga bukan siapa – siapa
saya.
Nah, sehingga ya dia sama sekali gak punya hak
atau berhak untuk melarang saya menjalin hubungan, relasi, berserikat, atau
berkumpul dengan siapapun. Bukan urusan & gak ada hak nya si “bunga” untuk
melarang saya. Karena ya siapa dia & apa haknya dia coba mau nglarang –
nglarang saya?
Iya kalo saya pasanganya si “bunga”, mungkin
masih ada sedikit alasan yang jelas lah, lha ini pasangan saya juga bukan,
kemudian saya juga gak ada KESEPAKATAN/IKATAN/HUBUNGAN apa
– apa dengan dia, kemudian dia juga bukan siapa – siapa saya. Sehingga ya dia
sama sekali gak ada hak atau bahasa kerenya legal standing untuk melarang atau
menghalang – halangi saya untuk menjalin hubungan, relasi, berserikat, atau
berkumpul dengan siapapun.
Nah, sehingga ya gak ada haknya dia untuk
nglarang saya untuk melakukan itu. Nah, kalo dia melakukan itu, ya artinya dia
melanggar hak asasi saya.
Nah, oleh karena itu, sehingga sampe disini
udah jelas ya..
Nah, kemudian disini dugaanya, si “bunga” ini
menghembuskan isu yang aneh – aneh di belakang saya. Sehingga ya gak jelas juga
sebenernya motif, alasan, tujuanya si “bunga” melakukan itu. Karena ya ngapain
coba wong saya ini hanya & baru sebatas CHAT untuk KENALAN
& NGAJAK KOMUNIKASI aja kok dugaanya udah di tuduh atau
isukan macem – macem. Sehingga ya gak jelas banget sebenernya..
Nah, oleh karena itu, melalui tulisan ini, saya
ingin menjawab sebagian dari dugaan isu – isu yang di hembuskan. Saya jawab
satu per satu ya. Disini saya menggunakan sistem tanya jawab atau biasa disebut
Q&A aja.
- Apakah akun instagram saya yang @ruddinss &
@masss_odeee itu akun instagram asli saya? Ya, itu akun instagram asli
saya. Untuk akun instagram asli saya sebelumnya yang @ruddinss, kemudian
saya buat akun publik yang @masss_odeee sebagai media untuk konfirmasi
atau klarifikasi misal ada hembusan isu - isu yang beredar. Tapi saya
sudah deactivated akun IG saya yang @masss_odeee.
- Apakah saya menggunakan jasa admin untuk
mengelola akun IG tersebut? Saya tidak menggunakan jasa admin untuk
mengelola akun IG tersebut. Sehingga saya sendiri yang mengelolanya.
- Apakah foto yang saya pernah saya bagikan ke
"bunga" itu foto asli saya atau foto orang lain? Itu foto asli
saya sewaktu saya masih mahasiswa dulu. Saya tidak menambahkan filter atau
obyek biar tambah mulus atau ganteng, ya udah aslinya ya seperti itu. Itu
hanya saya crop aja. Kalo mau aslinya ya silahkan saya masih ada.
- Apakah foto saya tersebut hasil editan AI? Jaman
segitu masih belum ada AI & saya tidak terbiasa untuk mengedit gambar
atau foto menggunakan AI. Saya menggunakan AI kebanyakan yang format text
seperti Chat gpt, google gemini, & grok, untuk tanya case tertentu.
Bukan untuk mengedit gambar atau foto saya.
- Apakah foto yang saya posting di sosial media itu
foto hasil comotan di google atau foto asli saya? Ya, beberapa memang ada
yang hasil comot dari sumber lain, tapi biasanya saya menyebutkan sumber
referensinya.
- Apakah desain gitar yang ada di IG saya itu asli
desain saya? Ya, itu asli desain saya sendiri sewaktu jaman kuliah saya
dulu.
- Apakah saya berniat untuk pansos? Waduh, maaf
saya bukan tipikal yang seperti itu. Kalo saya pansos, biasanya saya
sering posting foto saya bersama publik figur tertentu di media sosial.
Nah, saya jarang melakukan itu. Sehingga saya bukan tipikal orang yang
seperti itu.
- Apakah pekerjaan saya? Ya, saya saat ini sedang
merintis usaha saya sendiri. Ya, masih kecil & mikro banget lah.
- Apakah saya intel atau mata² asing? Wah ini
ngawur banget tuduhanya. Intinya riwayat saya jelas & silahkan aja
buktikan kalo saya di tuduh intel atau mata – mata asing. Kalo emang gak
terbukti ya itu murni fitnah yang ngawur, gak jelas, gak berdasar, &
gak pernah terbukti.
- Apakah saya kelaparan & susah makan? Ya,
Alhamdullillah bukanya sombong atau gimana - gimana, kalo sekedar makan
aja ya Alhamdulillah selama ini tercukupi dengan baik lah. Alhamdulillah
ya ndak sampe kelaparan juga.
- Apakah saya dapat asupan makanan dari orang lain?
Ya, alhamdulillah selama ini untuk urusan makanan saya masih bisa memenuhi
sendiri. Sehingga ya fitnah & ngawur misal ada yang bilang saya dapat
asupan makanan dari orang lain.
- Ada isu saya kekurangan & dapat asupan
nutrisi dari orang lain ndak? Ya, alhamdulillah, kebutuhan nutrisi saya
mungkin masih terbilang cukup baik. Kalo mau test kesehatan ya silahkan
aja. Saya sama sekali gak keberatan. Sehingga ya fitnah & ngawur misal
ada yang bilang saya kekurangan nutrisi.
- Untuk pendidikan formal terkahir saya apa? Untuk
pendidikan formal terakhir saya S1 jurusan teknik mesin. Ya, itu untuk
gelar akademis formalnya. Kalo engineer2 banget ya ndak juga. Karena saya
udah lama ndak sekolah & ketika lulus malah banyak berkecimpung dengan
dunia marketing/pemasaran. Sehingga bukan engineer tulen lah. Cuman Insya
Allah logika engineernya masih jalan & kalo di ajak ngobrol mungkin
masih agak sedikit nyambung karena ada backgroud sekolah formalnya. Tapi
kalo engineer tulen bukan lah.
- Apakah saya anak & cucunya si A,B,C, &D?
Isu ngawur apa lagi nih? Hehehe.. Sebagai informasi aja, kakek & nenek
kandung saya udah meninggal semua. Kemudian orang tua saya masih lengkap
& tinggal sama saya di Surabaya.
- Apakah saya "kucing"nya si A,B,C,D?
Wah, ini juga framing yang gak jelas & ngawur.
- Apakah saya lagi ngonten? Walah, saya bukan
aliran content creator.
- Apakah saya cosplay? Walah isu apa lagi nih?
Ngarang – ngarang & ngada – ngada aja lah kalo ada yang mengembuskan
isu ini.
- Ada yang buat isu saya nipu ndak? Nah, untuk
konteks ini, monggo barangkali ada yang merasa pernah saya tipu (terutama
urusan karir & keuangan), silahkan konfirmasi langsung dengan saya
aja. Pernah ada urusan apa sama saya, kemudian saya nipunya dimana. Nanti
saya yang mempertanggung jawabkan. Kalo hanya desas
desus/isu/gosip/tuduhan, tapi yang buat isu sendiri juga bingung saya
nipunya dimana, ya apa yang saya pertanggung jawabkan? Masa saya harus
mempertanggung jawabkan isu/tuduhan/gosip/fitnah yang gak jelas &
berdasar? Kemudian masa saya harus mempertanggung jawabkan perbuatan yang
memang gak saya lakukan? Sehingga kalo memang ada yang merasa demikian,
monggo silahkan. Tapi kalo memang gak ada & cuman
isu/gosip/tuduhan/fitnah aja, ya maaf. Justru saya ndak ngerti kenapa di
isukan/tuduh/gosipkan/fitnah demikian.. Hehehe
- Apakah saya kepingin foto? Walah ngapain juga
sih? Kan udah saya bilang saya bukan tipikal orang yang pansos. Sehingga
ya itu tuduhan atau isu yang ngawur & ngarang – ngarang aja. Mungkin
dia sendiri yang ke GR’an sehingga merasa atau di kira saya pingin foto
dengan dia. Saran saya biasa aja lah, gak usah ke pedean & ke GR’an.
Biasa aja
Nah, sehingga kurang lebih seperti itu
mengenai jawaban dari dugaan kemungkinan isu – isu yang di hembuskan. Semoga
sebagian udah terjawab.
Nah, dari jawaban saya tersebut, berapa yang
bener & ndak bener? Ya kalo ada yang ndak bener ya berarti itu hanya fitnah
aja..
Nah, mengenai isu data, dugaanya data pribadi
saya ini di buka & sebar. Lha ini apa kaitan/hubungan & urusanya kok
data pribadi saya dugaanya malah di buka & sebar? Sehinga menurut saya, itu
perilaku atau perbuatan yang ilegal lho. Karena yang namanya data pribadi itu
harus di lindungi & jaga. Gak boleh asal di buka & sebar sembarangan
& se’enaknya. Apalagi tanpa seijin pemiliknya. Sehingga misal terdapat
perilaku atau perbuatan yang demikian, ya setau saya itu termasuk dalam
kategori pelanggaran data pribadi. Setau saya untuk konteks itu ada potensi konsekuensi
hukumnya lho..
Nah, kemudian saya memahami untuk case saya
ini ada pihak ketiga yang ikut terlibat. Ada yang pro & ada yang kontra.
Ya, sebenernya saya agak kurang senang juga sih ketika terlalu banyak pihak
yang terlibat untuk urusan yang sifatnya personal/pribadi. Karena ya bakal
ruwet seperti yang udah saya duga dari awal..
Kemudian ketambahan lagi untuk case ini dugaan
saya atau menurut keyakinan saya ada juga di tumpangi atau di tunggangi “kepentingan”
atau di politisasi. Sehingga ya tambah ruwet jadinya.
Nah, kemudian lha wong antara saya dengan si
“bunga” ini juga gak pernah ngobrol atau komunikasi 2 arah & KESEPAKATAN/IKATAN/HUBUNGAN apa
– apa juga kok banyak banget yang terlibat. Sehingga ya saya gak seberapa
seneng & risih juga sebenernya.
Kecuali kalo saya udah pernah ngobrol 2 arah,
kemudian saya udah ada KESEPAKATAN/IKATAN/HUBUNGAN dengan
si “bunga” mau support ya silahkan, saya malah senang.
Nah, untuk case ini kan antara saya dengan si
“bunga” sendiri juga belum ada KESEPAKATAN/IKATAN/HUBUNGAN apa
– apa & saya juga belum pernah ngobrol 2 arah dengan si “bunga” kok banyak
banget yang terlibat? Sehingga ya saya kurang senang & risih sebenernya..
Nah, tapi saya tetap berterima kasih misal ada
yang bantu untuk menengahi karena dugaanya atau sepertinya untuk case atau
konteks dengan si “bunga” kemarin ini ada beberapa pihak yang ingin menunggangi
atau numpang untuk di politisasi..
Sehingga ya saya terima kasih untuk pihak yang
bisa menegaskan & memperjelas masalah itu. Karena kalo gak di tengahi
dengan tegas & jelas, ya bisa melintir di politisasi kemana – mana. Seperti
yang terjadi kan gitu, karena ada nuansa di politisasi, urusan gampang &
sepele jadi melebar kemana – mana. Ke hal – hal yang gak ada kaitan &
urusanya. Sehingga ya saya senang ketika ada pihak yang pro & tegas memberi
batasan soal itu.
Nah, kemudian memang ada beberapa pihak yang
dulu sempat ke Surabaya. Ya, sepengetahuan saya, mereka memang ada agenda atau
kegiatan sendiri di Surabaya. Kemudian mereka juga tidak ada konfirmasi, kabar,
atau janjian untuk ketemuan dengan saya.
Sehingga ya saya tidak menemui mereka ketika
mereka ada agenda kunjungan ke Surabaya. Karena saya ya tidak tau mereka ingin
menemui saya atau tidak, karena saya tidak pernah mendapatkan kabar,
konfirmasi, atau perjanjian apapapun.
Nah, oleh karena itu, saya anggap mereka punya
agenda sendiri di Surabaya & ndak ada keinginan atau rencana untuk menemui
saya. Karena gak ada keinginan & rencana untuk ketemu saya, akhirnya ya
ndak saya temui juga. Wong ndak ada kabar, konfirmasi, atau janjian apa – apa juga.
Ya ndak?
Nah, sehingga jangan merasa saya ndak
menghargai atau menghormati ketika saya ndak menemui mereka waktu mereka ada
kunjungan kerja di Surabaya. Karena ya mana saya tau mereka kepingin ketemu
saya atau ndak. Ndak ada konfirmasi, komunikasi, kabar, atau janjian ya udah,
saya anggap mereka ada agenda sendiri di Surabaya & ndak ada rencana atau
keinginan untuk ketemu saya juga. Sehingga ya waktu itu ya saya ndak menemui
mereka juga.
Nah, oleh karena itu bukan saya ndak
menghargai, menghormati, atau gimana ketika saya tidak menemui mereka saat
mereka datang ke Surabaya untuk kunjungan kerja. Tapi saya ndak tau mereka ada
rencana atau keinginan untuk ketemu saya atau ndak. Karena ya emang ndak ada
konfirmasi, komunikasi, kabar, atau janjian yang saya terima. Oleh karena itu,
waktu itu ya saya ndak menemui mereka ketika mereka ada agenda atau kunjungan
kerja di Surabaya.
Nah, sehingga kalo emang kepingin untuk ketemuan,
ya konfirmasi, kabari, atau janjian aja.
Saya sangat terbuka kok untuk ketemuan. Karena kalo ndak ada kabar, janjian,
atau konfirmasi yang saya terima, ya gimana? Kemudian ya saya mana tau kalo
mereka kepingin ketemu saya atau ndak. Ya ndak?
Nah, oleh karena itu, dari awal sebenernya
gampang aja. Kalo ada yang mau di sampaikan, sampaikan langsung aja. Kalo mau
ketemuan, kabari, konfirmasi, komunikasikan, & janjian aja. Karena kalo
serba gak jelas ya gimana?
Mau ketemu siapa, mau ketemu diamana, mau
bahas apa, mau ketemu kapan, kalo itu semua serba gak jelas ya gimana? Repot
& susah juga kan?
Nah, oleh karena itu, intinya gampang aja.
Kalo ada yang mau di sampaikan, sampaikan langsung aja. Kalo mau ketemuan, komunikasikan,
konfirmasi, kabari, atau janjian aja. Saya sangat terbuka aja sebenernya.
Kalo itu semua gak ada ya udah, saya
anggap gak ada apa – apa & jangan salahkan saya juga misal saya tidak
memberikan respon apa – apa. Karena nanti ngambek lagi. Saya udah proaktif
untuk membuka jalur komunikasi, kemudian gak di respon, ada yang mau di sampaikan
gak mau di sampaikan langsung, pingin ketemuan gak mau konfirmasi, ngabari,
komunikasi, atau janjian dulu, kemudian ndak saya temui nanti merasa & saya
di anggap ndak menghargai. Lho lak ruwet & repot..
Oke, saya kira semua udah clear & jelas ya.
Di puter – puter itu aja intinya sebenernya. Sehingga kalo masih belum paham,
silahkan di baca lagi sendiri aja. Sehingga kurang lebih seperti itu ya..
Nah, kemudian untuk mempertajam pemahaman anda
tentang case atau konteks ini, saya beri beberapa pertanyaan di bawah ini ya.
Sehngga monggo bisa di pikir & jawab pertanyaanya agar anda bisa punya
pemahaman yang lebih baik & tajam untuk case atau konteks ini.
- Jadi intinya kemarin ini urusan apa?
- Substansi, konteks, & kronologinya bagaimana?
- Kemudian yang saya lakukan ini sebenernya
ngapain?
- Orang hanya & baru sebatas CHAT untuk KENALAN
& NGAJAK KOMUNIKASI aja salah ndak? Kalo salah,
salahnya dimana? Itu termasuk tindakan kriminal ndak?
- Apa saja yang membuat case ini kesanya jadi heboh
& ribet banget?
- Siapa yang menjadikan urusan ini menjadi konsumsi
publik?
- Apa saja Niat/Rencana/Wacana saya untuk ke
Jakarta?
- Apa yang membuat saya membatalkan
Niat/Rencana/Wacana saya untuk ke Jakarta?
- Orang membatakan Niat/Rencana/Wacana salah ndak?
- Apakah saya salah jika saya membatalkan
Niat/Rencana/Wacana saya untuk ke Jkt kalo masih belum atau gak ada
kesepakkatan atau konfirmasi apa - apa?
- Siapa yang salah misal saya membatalkan
Niat/Rencana/Wacana untuk ke Jkt?
- Bagaimana jawaban saya terkait dengan dugaan isu
janji manis, dst?
- Jadi status hubungan saya dengan si
"bunga" ini sebenernya apa?
- Boleh ndak saya menjalin hubungan atau
relasi dengan orang lain?
- Boleh ndak si "bunga" melarang
saya untuk menjalin hubungan atau relasi dengan orang lain?
- Boleh ndak data pribadi di buka & sebarkan ke
publik?
- Boleh ndak menutupi pelanggaran data pribadi?
- Kenapa saya tidak menemui pihak ketiga saat
mereka ada kunjungan kerja di Surabaya?
- Saya salah ndak misal ndak menemui pihak ketiga
ketika mereka kunjungan ke Surabaya?
- Mereka salah ndak misal mereka mungkin ngambek
atau marah ketika mereka tidak saya temui sewaktu kunjungan ke Surabaya?
- Boleh ndak menyebarkan fitnah,
mempropanda/memprovokasi orang lain?
- Apa konsekuensi hukumnya jika menyebarkan fitnah,
propaganda, & provokasi orang lain?
- Boleh ndak orang lain untuk konfirmasi &
klarifikasi ke saya secara langsung atas dugaan isu - isu yang di
hembuskan?
- Boleh ndak orang lain nutup - nutupi
propaganda/Provokasi isu - isunya?
- Saya keberatan ndak misal mau ketemuan?
- Kalo mau ketemuan harus ngapain?
- Dst
Nah, jadi itu beberapa pertanyaan yang
mungkin bisa membantu mempertajam pemahaman anda. Sebenernya masih banyak lagi
pertanyaan - pertanyaan yang lain, tapi ndak usahlah, saya kira itu udah cukup
membantu untuk mempertajam pemahaman anda untuk case dengan si
"bunga" kemarin.
Nah, sehingga kalo masih ada yang belum
ngerti atau masih bingung, kemudian masih mengulang - ulang hal yang sama,
kemungkinanya antara lain ya :
- Belum baca tulisan saya
- Sudah baca tapi belum paham
Sehingga ya udah silahkan di baca ulang
sendiri aja.
Nah sehingga kalo dari saya kurang lebih
seperti itu. Kalo ada yang lain – lain, saya tidak bertanggung jawab atas itu.
Karena ya ngapain saya mempertanggung jawabkan atas hal yang tidak saya lakukan
juga? Atau bertanggung jawab atas asumsi, karangan, imajinasi, spekulasi, isu, atau
tuduhan dari orang lain juga? Masa saya harus mempertanggung jawabkan imajinasi, isu, asumsi, spekulasi, orang lain juga? Ya ndak make sense atau masuk
akal logikanya..
Sehingga intinya siapa yang berbuat ya itu
yang bertanggung jawab. Bukan saya yang ndak tau apa – apa & ndak ngapa – ngapain,
kemudian saya yang di tuduh & mintai pertanggung jawaban atas imajinasi, asumsi, karangan, spekulasi, tuduhan, atau isu hasil dari orang lain. Ya udah ndak masuk & putus logikanya.
Nah, sehingga kalo dari saya kurang lebih
seperti itu. Kalo ada yang di luar itu, itu bukan dari saya & saya tidak
bertanggung jawab atas itu. Sehingga kalo ada yang lain – lain, silahkan
konfirmasi atau klarifikasi langsung aja. Karena saya sangat senang &
terbuka sekali dengan itu.
Nah, oke deh, saya kira cukup sekian dulu untuk tulisan saya kali ini. Selebihnya silahkan di baca & ulangi sendiri. Sehingga cukup sekian dulu ya..
Salam.

Komentar
Posting Komentar