Rangkuman & Kesimpulan Drama Dengan si "Bunga"

Hallo, ya malam ini saya mau nulis tentang rangkuman & kesimpulan drama dengan si "bunga"..

Nah, jadi begini, sebelum saya memulai tulisan saya kali ini & untuk mempermudah penulisan, disini saya menggunakan istilah si “bunga” untuk menyebut yang bersangkutan, dengan ciri – ciri antara lain :

  1. Karir & domisili di jkt & sekitarnya
  2. Lebih tua dari saya (kelahiran antara 1986 – 1989)
  3. Pake “seragam”

Nah, itu untuk ciri – ciri si “bunga”..

Ya, saya memahami, untuk case kemarin ini memang banyak banget asumsi, spekulasi, & isu – isu yang berkembang. Karena dugaanya ada pihak – pihak yang dengan sengaja menghembuskan, mengorkestrasi, mempropaganda, & mengolah isu – isu yang aneh -  aneh..

Sehingga orang yang mungkin ndak pernah ada kaitan & urusanya dengan saya, mungkin jadi ikut – ikutan heboh & ribet juga karena sudah terpengaruh & terjebak dengan propaganda isu – isunya. Ya ndak?

Anda juga gitu ndak? hehehe..

Nah, sehingga untuk case kemarin memang banyak yang ikut heboh, ribet, atau bahkan mungkin udah ada yang sensi duluan karena terpengaruh, terjebak, & hanya fokus dengan propaganda isu – isunya aja. Tapi apa yang di hebohkan & ribetkan ini intinya urusan apa ya masih banyak yang bingung & ndak ngerti juga. Ya ndak?

Nah, sehingga kan konyol, ikut heboh & ribet, tapi apa yang di hebohkan & ribetkan ternyata masih belum ngerti & bingung juga.. hehehe..

Nah, jika anda mungkin termasuk orang yang demikian, itu artinya ya anda hanya fokus & terjebak dengan propaganda isu – isunya aja. Tapi anda ndak ngerti & masih bingung dengan inti permasalahan, substansi, konteks, & kronologinya gimana.

Sehingga jadinya ya begitu, ikut heboh & ribet, tapi apa yang di hebohkan & ribetkan ini intinya apa ya masih bingung & ndak ngerti juga.. hehehe..

Nah, oleh karena itu, agar anda tidak hanya terjebak & fokus dengan propaganda isu – isunya, pahami inti permasalahan, substansi, konteks, & kronologinya ya.

Karena ketika anda sudah paham dengan inti permasalahan, substansi, konteks, & kronologinya, anda tidak mudah terjebak & hanya fokus dengan pengaruh propaganda isu – isunya aja..

Kemudian anda jadi tidak mudah untuk di giring, manfaatkan & jadikan alat, untuk di tunggangi & di bentur – benturkan dengan propaganda isu – isunya.

Nah, oleh karena itu, agar anda tidak hanya fokus & terjebak dengan propaganda isu – isunya, kemudian agar anda tidak di manfaatkan & di jadikan alat untuk di bentur – benturkan oleh pengaruh propaganda isu – isunya oleh pihak – pihak yang berkepentingan, pahami inti permasalahan, substansi, konteks, & kronologinya dengan baik ya..

Karena jangan sampe anda dengan saya yang gak pernah ada kaitan & urusan apa – apa dengan saya jadi agak gimana – gimana karena anda sudah terjebak & terpengaruh dengan propaganda isu – isunya.

Nah, oleh karena itu silahkan anda baca tulisan saya kali ini dengan baik & sampe habis ya. Karena saya akan mengulas inti permasalahan, substansi, konteks, & kronologinya di tulisan saya kali ini.

Nah, sebelum saya melanjutkan tulisan saya kali ini, saya sarankan anda untuk melepaskan dulu seluruh isu – isu yang pernah anda terima. Kemudian jangan lupa gunakan nalar & akal sehatnya. Tujuanya agar anda bisa lebih jernih, netral, & obyektif dalam memahami substansi, konteks, & kronologinya.

Karena ketika anda sudah terpengaruh dengan propaganda isu – isunya, kemudian anda tidak menggunakan nalar & akal sehat anda, ya anda akan susah untuk bisa jernih, netral, & obyektif dalam memahami substansi, konteks, & kronologinya. Karena anda sudah tendensius karena pengaruh propaganda isu – isunya.

Nah, oleh karena itu, agar anda bisa lebih netral, jernih, & obyektif dalam memahami substansi, konteks, & kronologinya, lepaskan dulu seluruh isu – isu yang pernah anda terima ya. Kemudian jangan lupa gunakan nalar & akal sehatnya.

Nah, kemudian tulisan saya kali ini mungkin agak panjang. Sehingga anda santai & pelan – pelan aja bacanya. Kalau masih belum paham silahkan di ulangi lagi gpp. Karena yang terpenting adalah bukan seberapa cepat anda bisa membaca, tapi sejauh mana anda bisa memahami substansi, konteks, & kronologinya. Karena percuma aja anda bisa cepat membacanya tapi anda masih belum paham juga, kemudian masih mengulang – ulangi hal yang udah saya bahas semua.

Nah, oleh karena itu, yang terpenting adalah bukan seberapa cepat anda bisa membaca, tapi sejauh mana anda memahami substansi, konteks, & kronologinya. Sehingga anda ngerti, ndak bingung, & gampang terpropaganda dengan isu – isunya. Nah, oleh karena itu, santai & pelan – pelan aja bacanya & kalo masih belum paham, silahkan di ulangi lagi gpp..

Nah, oke mari masuk ke topik pembahasan ya..

Nah, sebelum saya melanjutkan tulisan saya, ada baiknya saya kasi pertnyaan dulu. Jadi sebenernya intinya ini urusan apa? Kemudian substansi, konteks, & kronologinya bagaimana? Kemudian yang saya lakukan ini sebenernya ngapain? Apakah saya korupsi sampe merugikan berapa ratus milyar? Apakah saya mencuri? Atau saya melakukan tindakan kriminal lain? Kok kesanya heboh & ribet banget?

Nah udah ada yang udah ngerti atau clear soal itu ndak? Hehehe..

Kalo masih belum ngerti & masih bingung, silahkan lanjut bacanya..

Nah, jadi untuk konteks saya kemarin ini sebenernya murni urusan personal/pribadi seorang oknum. Ya bisa di bilang urusan anak muda lah. Kemudian yang saya lakukan ini sebenernya ya hanya & baru sebatas CHAT untuk KENALAN & NGAJAK KOMUNIKASI aja. Hanya & baru sebatas itu..

Nah, jadi yang saya lakukan ini intinya ya hanya & baru sebatas itu. Bukan korupsi sampe merugikan berapa ratus milyar, mencuri, atau tindakan kriminal lainya.

Nah, kemudian sampe saya menulis tulisan ini juga Alhamdulillah gak pernah ada & jangan sampe ada catatan kriminal apapun. Sehingga untuk case kemarin, yang saya lakukan ini hanya & baru sebatas CHAT untuk KENALAN & NGAJAK KOMUNIKASI aja.

Sehingga ya ini sebernya urusan sepele, ndak ada artinya, bukan tindakan kriminal, masih dalam tahap normal, wajar, lumrah, & banyak di lakukan anak jaman sekarang juga.

Anda pernah CHAT untuk KENALAN & NGAJAK KOMUNIKASI dengan orang lain juga ndak? Kalo pernah, intinya ya sama aja, yang saya lakukan ini mungkin pernah anda lakukan juga.

Oleh karena itu, yang saya lakukan ini sebenernya ya hal yang sangat sepele, ndak ada artinya, masih dalam tahap normal, wajar, & banyak di lakukan anak jaman sekarang. Kemudian saya kira juga bukan tindakan kriminal juga..

Kalo di bandingkan dengan maling sandal atau maling permen Rp. 500an, aja masih lebih parah maling sandal & permen Rp. 500an karena dia mencuri.

Nah, oleh karena itu, untuk case kemarin ini saya kira ya bukan tindakan kriminal juga. Urusan sepele yang ndak ada artinya banget lah. Kemudian ya masih dalam tahap wajar, normal, lumrah, & banyak di lakukan anak jaman sekarang juga.

Nah, kalo anda berpikir, “ealah, cuman begitu aja to, kirain apa”. Ya kalo anda paham, intinya ya hanya & baru sebatas itu aja. Sehingga ya sepele banget kan?

Nah, kemudian kalo anda berpikir lagi “Kenapa urusan sepele banget, ndak ada artinya, bukan termasuk tindakan krinimal, masih dalam tahap lumrah, wajar, normal, & banyak di lakukan anak jaman sekarang kesanya kok heboh & ribet banget?”

Nah, itu juga yang saya ndak ngerti pastinya, hanya saja dugaan saya antara lain karena :

  1. Sudah menjadi konsumsi publik.
  2. Tidak adanya upaya untuk konfirmasi & klarifikasi terbuka di depan.
  3. Terjadi pada oknum yang dekat dengan “orang penting”
  4. Ada nuansa di politisasi atau di tumpangi “kepentingan”.

Nah, oleh karena itu, urusan yang sebenernya sepele banget, ndak ada artinya, masih dalam tahap normal, lumrah, wajar, & banyak di lakukan anak jaman sekarang, kesanya jadi heboh & ribet banget.

Padahal kalo anda ngerti, di puter – puter intinya ya itu aja. Murni urusan personal/pribadi seorang oknum, kemudian yang saya lakukan ini hanya & baru sebatas CHAT untuk KENALAN & NGAJAK KOMUNIKASI aja. Ya itu aja..

Nah, oke mari kita bahas satu per satu kenapa urusan yang sebenernya sepele & ndak ada artinya kesanya jadi heboh & ribet banget..

Menurut saya kenapa urusan yang sepele begini kesanya jadi heboh & ribet banget, yang pertama karena urusan tersebut sudah menjadi konsumsi publik.

Nah, dari awal saya sebenernya kurang setuju & sudah menyampaikan ke yang bersangkutan, kalo tidak perlu menjadikan urusan personal & pribadi jadi konsumsi publik. Karena ya apa urgensinya juga sih menjadikan urusan personal/pribadi jadi konsumsi publik? Kan ya gak ada juga. Kemudian toh ya udah sama – sama dewasa juga, sehingga di bicarakan atau komunikasikan baik – baik sebenernya kan ya bisa, ndak perlu di jadikan konsumsi publik. Sehingga ya ndak ada urgensinya juga sebenernya menjadikan urusan personal/pribadi jadi konsumsi publik.

Nah, alasan saya yang lain saya kurang setuju ketika menjadikan urusan personal/pribadi jadi konsumsi publik adalah, ketika urusan sudah menjadi konsumsi publik, maka :

  1. Akan banyak kepala yang terlibat.
  2. Akan banyak asumsi & spekulasi yang tercipta

Nah, sehingga bukanya simpel malah tambah ruwet. Oleh karena itu, dari awal sebenernya saya kurang setuju & sudah menyampaikan ke yang bersangkutan kalo ndak perlu menjadikan urusan personal/pribadi jadi konsumsi publik.

Nah, tapi yang terjadi akhirnya jadi konsumsi publik juga. Sehingga siapa yang menjadikan urusan ini jadi konsumsi publik?

Saya kira anda sudah bisa berpikir & menganalisa sendiri untuk bisa menjawabnya.. hehehe..

Nah, kemudian ketika urusan sudah menjadi konsumsi publik, seharusnya di konfirmasi atau klarifikasi terbuka di depan kan ya selesai. Sehingga ndak perlu di buat ruwet & jadi polemik berkepanjangan.

Nah, kalo ini ndak, udah bukan saya yang menjadikan urusan ini jadi konsumsi publik, ketika sudah menjadi konsumsi publik, eh ndak ada upaya untuk konfirmasi & klarifikasi terbuka di depan. Sehingga ya terkesan di biarkan aja bergulir jadi bola liar, polemik berkepanjangan, & ndak ada solusi pertanggung jawabanya.

Sehingga udah berbuat, eh ndak ada solusi pertanggung jawabanya.

Nah, meskipun bukan saya yang menjadikan urusan ini jadi konsumsi publik, saya sudah menyampaikan ke yang bersangkutan untuk tidak menjadikan urusan ini jadi konsumsi publik, kemudian urusan ini akhirnya jadi konsumsi pubik juga, kemudian sampe saya menulis tulisan ini ndak ada solusi pertanggung jawabanya, kemudian karena ada kaitanya dengan saya, oke disini saya mau klarifikasi ya..

Nah, mari kita masuk ke kronologinya..

Nah, jadi begini, ketika pertengahan tahun 2019 kemarin, saya dapat info kalo si “bunga” ini lagi jomblo. Ya yang namanya anak muda, ya gak ada salahnya untuk coba KENALAN & NGAJAK KOMUNIKASI aja kan?

Sehingga saya kira yang saya lakukan ini bisa di bilang masih normal, lumrah, wajar, & banyak di lakukan anak jaman sekarang juga lah..

Nah, sehingga waktu itu ya saya cari akun sosial medianya, saya follow, saya komen, saya like, & banyak cerita lewat dm. Ya seperti orang CHAT untuk KENALAN & NGAJAK KOMUNIKASI  biasa aja seperti orang kebanyakan lah. Sehingga ya masih normal, lumrah, & wajar – wajar aja sebenernya, seperti yang di lakukan orang kebanyakan.. 

Nah, kemudian waktu itu memang saya ada NIAT/RENCANA/WACANA untuk ke Jkt untuk mengikuti program inkubasi bisnis. Ya semacam program pelatihan bisnis gitu lah, kemudian nanti kalo udah lulus semacam ada investornya yang memodali bisnisnya gitu lah.

Nah, oleh karena itu, ya kebetulan dong, saya ada NIAT/RENCANA/WACANA untuk ikut program inkubasi bisnis di Jkt, kemudian si “bunga” ini karir & domisilinya di Jkt. Sehingga kalo mau kenalan lebih lanjut ya bisa lebih dekat lah ndak perlu repot – repot.

Nah, sehingga NIAT/RENCANA/WACANA saya untuk ke Jkt waktu itu ada 2, antara lain :

  1. Mau ikut program inkubasi bisnis
  2. Biar lebih dekat dengan si “bunga”.

Oke, jadi sampe disini udah clear ya NIAT/RENCANA/WACANA saya untuk ke Jkt ini untuk apa.

Nah, tapi waktu itu saya masih ada urusan yang harus saya selesaikan di Surabaya, sehingga ya udah saya selesaikan urusan saya dulu di Surabaya sampe akhir tahun 2019.

Nah, ketika urusan saya di Surabaya sudah selesai, saya ingin melanjutkan NIAT/RENCANA/WACANA saya untuk ke Jkt. Tapi waktu itu Jkt di guyur hujan lebat & banjir hebat. Banyak rumah – rumah yang tenggelam karena banjir.

Nah, kemudian waktu itu, ketika saya sudah coba untuk proaktif CHAT si “bunga”, sampe saya menulis tulisan saya kali ini masih TIDAK ADA RESPON juga.

Sehingga ya udah, akhirnya saya membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA saya untuk ke Jkt. Karena ya mau ngapain saya ke Jkt kalo gak ada tujuan yang jelas? Saya mau ikut program inkubasi bisnis, tapi waktu itu Jkt lagi di guyur hujan lebat & banjir hebat. Kemudian saya mau menemui si “bunga”, sampe saya menulis tulisan saya kali ini ya masih TIDAK ADA RESPON juga. Sehingga ya udah ngapain juga saya ke Jkt kalo gak ada tujuan yang jelas? Mau ketemu siapa, mau ketemu dimana, mau ketemu kapan, mau bahas apa, gimana kalo serba gak jelas?

Nah, oleh karena itu, waktu itu saya membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA saya untuk ke Jkt karena tidak ada alasan & tujuan yang jelas buat saya untuk ke Jkt..

Nah, seandainya waktu itu si “bunga” konfirmasi saya, setidaknya masih ada 1 dari 2 alasan jelas buat saya untuk ke Jkt. Sehingga meskipun hujan lebat atau banjit hebat, setidaknya masih ada 1 dari 2 alasan jelas bagi saya untuk ke Jkt.

Nah, karena saya udah berusaha untuk proaktif membuka jalur komunikasi dengan si “bunga”, kemudian sampe saya menulis tulisan saya kali ini masih TIDAK ADA RESPON juga, kemudian mau ikut program inkubasi bisnis di Jkt, tapi waktu itu Jkt lagi hujan lebat & banjir hebat, ya udah sehingga ya saya gak ada tujuan & alasan yang jelas untuk ke Jkt.

Nah, tapi disini dugaanya & saya merasa kalo dia ini ngarep & nungguin saya. Ya ndak?

Kemudian dia agak marah ketika saya membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA saya untuk ke Jkt. Kemudian dia merasa & propaganda ke orang lain kalo saya ini ingkar janji, janji manis, dsb karena saya tidak jadi atau membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA  saya untuk ke Jkt.

Lho ini gimana to? Saya udah berusaha untuk proaktif membangun komunikasi dengan dia, tapi sampe saya menulis tulisan kali ini, dia yang TIDAK MERESPON, sehingga saya membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA untuk ke Jkt, kok saya yang di tuduh ingkar janji atau janji manis?

Ya ndak bisa dong, wong dia sendiri yang TIDAK MERESPON ketika saya sudah berusaha untuk proaktif membangun jalur komunikasi, kemudian ketika saya ndak jadi atau membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA saya untuk ke Jkt, kenapa saya yang di salahkan & di tuduh ingkar janji atau janji manis? Nah, gak jelas kan?

Nah, kemudian orang yang hanya & baru sebatas NIAT/RENCANA/WACANA itu ndak harus selalu terwujud. Bisa tidak terwujud kalo ada halanganya. Sehingga yang namanya NIAT/RENCANA/WACANA itu boleh & bisa – bisa aja di batalkan misal ada halangan yang membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA tersebut.

Nah, halangan yang membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA saya untuk ke Jkt kan udah jelas seperti yang udah saya sebutkan di pembahasan sebelumnya, yaitu :

  1. Saya mau ikut program inkubasi bisnis di Jkt tapi waktu itu Jkt lagi hujan lebat & banjir hebat. Banyak rumah yang tenggelam karena banjir.
  2. Saya sudah berusaha untuk proaktif membangun jalur komunikasi dengan si “bunga” tapi sampe saya menulis tulisan saya kali ini, saya masih belum mendapatkan atau TIDAK ADA RESPON dari si “bunga”.

Nah, oleh karena beberapa halangan tersebut, saya membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA saya untuk ke Jkt. Karena ya ngapain saya ke Jkt kalo gak ada tujuan atau alasan yang jelas? Saya mau ketemu siapa, mau ketemu dimana, mau ketemu kapan, mau bahas apa, gimana kalo serba gak jelas?

Nah, kemudian ya mana saya tau dia ngarep & nungguin saya, karena ketika saya sudah berusaha untuk proaktif membuka jalur komunikasi, tapi sampe saya menulis tulisan saya kali ini, saya juga TIDAK MENDAPATKAN RESPON apa – apa.

Karena TIDAK ADA RESPON, ya udah, saya membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA saya untuk ke Jkt.

Nah, oleh karena itu, saya salah ndak misal saya membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA saya untuk ke jkt?

 

Nah, sehingga sampe disini udah jelas ya apa yang menyebabkan saya membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA saya untuk ke Jkt? Kemudian udah jelas juga ya siapa yang buntu & buntunya dimana?

Nah, sehingga semoga udah terjawab mengenai isu janji manis, ingkar janji, dan sebagainya.

Nah, untuk memantapkan pemahaman anda, saya kasi analogi atau contoh kasus begini.

Jadi, anda ada NIAT/RENCANA/WACANA untuk main ke rumah teman anda. Kemudian anda WA teman anda, tapi dia TIDAK MERESPON WA anda. Sehingga anda membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA untuk main ke rumah dia karena WA anda TIDAK DI RESPON. Anda sudah berusaha untuk proaktif WA dia, tapi dia sendiri yang TIDAK MERESPON.

Sehingga anda salah ndak misal anda membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA anda untuk main ke rumah teman anda karena anda TIDAK MENDAPATKAN RESPON dari teman anda ketika anda sudah berusaha untuk proaktif WA dia?

Ya ndak salah bos, wong anda sudah berusaha untuk proaktif WA teman anda, tapi teman anda yang TIDAK MERESPON, jadi ya anda ndak salah & bukan salah anda ketika anda membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA anda untuk main ke rumah teman anda.

Nah, sehingga siapa yang salah ketika anda membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA anda untuk main ke rumah teman anda? Ya jelas teman anda yang salah karena dia TIDAK MERESPON WA anda.

Nah, kemudian misal teman anda marah – marah ke anda karena anda membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA untuk main ke rumahnya. Kemudian menyebut anda janji manis, ingkar janji, gak tepat janji, dsb. Dia salah ndak?

Ya, kalo teman anda marah – marah ke anda karena anda membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA anda untuk main ke rumah dia, ya tambah salah lagi dia. Karena dia sendiri yang TIDAK MERESPON WA anda sehingga anda membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA untuk main ke rumahnya dia, kok dia yang marah – marah karena anda membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA anda untuk main ke rumahnya dia. Kemudian nuduh anda ingkar janji & janji manis.

Sehingga sumber masalahnya & yang salah ya teman anda karena dia TIDAK MERESPON WA anda sehingga anda membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA anda untuk main ke rumahnya. Kemudian ya dia tambah salah lagi misal dia marah – marah ke anda & ngatain anda janji manis, janji palsu, ingkar, janji, dst.

Nah, sehingga sampe disini paham ya dengan contoh kasus atau analogi yang saya berikan?

Nah, analogi atau contoh kasus tersebut sebenernya sama dengan konteks saya dengan si “bunga”. Saya membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA saya untuk ke Jkt karena saya sudah berusaha untuk proaktif membangun jalur komunikasi dengan si “bunga”, tapi sampe saya menulis tulisan saya kali ini, saya masih TIDAK MENDAPATKAN RESPON  juga dari si “bunga”.

Nah, sehingga saya salah ndak misal saya membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA saya untuk ke Jkt?

Kemudian siapa yang salah misal saya membatalkan NIAT/RENCANA/WACANA saya untuk ke Jkt?

Intinya begini, kalo emang udah TIDAK ADA RESPON, ya udah, ngapain di lanjutkan juga? Kan gitu, ya ndak?

Nah, sehingga  udah clear ya. Semoga untuk isu ingkar janji & janji manis, dsb ini udah clear semua..

Nah, kemudian mari kita bahas soal status saya dengan si “bunga”. Jadi sebenernya status saya dengan si “bunga” ini apa? Apakah teman, pacar, hubungan suami/istri, atau mantan, atau selingkuhan? Nah, apa coba? Oke, mari kita bahas satu per satu..

Nah, sebelum kita membahas masalah status hubungan saya dengan si “bunga”, ada baiknya kita samakan persepsi mengenai definisi beberapa jenis status hubungan. Penting untuk menyamakan persepsi definisi ini agar kita memiliki satu pandangan & tidak ada perdebatan. Oke, kita bahas definisinya satu per satu ya..

  1. Teman. Teman adalah status hubungan yang tidak terikat gender/jenis kelamin (bisa terjadi antara laki - laki & perempuan, laki - laki dengan laki - laki, perempuan dengan perempuan) kemudian tidak ada perasaan spesial atau khusus "cinta" yang terjalin antara masing  - masing individu & tidak ada rencana untuk melanjutkan hubugan ke arah yang lebih serius ke jenjang pernikahan. Status hubungan teman ini bisa terbentuk karena biasanya ada kesamaan tertentu misal pernah sama - sama ketemu, pernah sama - sama satu sekolah, sama - sama pernah terlibat dalam project tertentu, dsb.
  2. Pacar. Pacar adalah status hubungan yang terbentuk antara laki - laki & perempuan (konteks hubungan normal), kemudian ada perasaan khusus "cinta" di dalam hubungan ini, kemudian ada rencana untuk melanjutkan ke arah hubungan yang lebih serius ke jenjang pernikahan. Di dalam status hubungan ini, sifatnya masih informal, masih belum di sahkan oleh agama & negara. Sehingga bisa di bilang dalam status hubungan ini, masing - masing individu masih dalam tahap ingin mengenali pribadi masing  - masing secara lebih mendalam sebelum berkomitmen bersama untuk melanjutkan hubungan ke arah yang lebih serius yaitu hubungan pernikahan. Nah, karena masih belum di sahkan oleh agama & negara, maka disini jika tidak terjadi kecocokan, maka masing - masing individu boleh untuk memutuskan tidak  melanjutkan hubungan tersebut tanpa harus di sahkan oleh agama & negara. Jadi ya kalo di rasa ndak ada kecocokan, jadi ya udah boleh langsung cabut aja tanpa harus di sahkan oleh agama & negara.
  3. Suami/istri. Suami istri ini sebenernya secara prinsip hampir sama dengan status hubungan pacar. Tetapi bedanya disini sudah di sahkan oleh agama & negara. Sehingga masing - masing individu sudah berkomitmen untuk hidup bersama & di sahkan oleh agama & negara. Sehingga apabila di tengah jalan tidak ada kecocokan & ingin pisah, maka ada proses administrasi yang di butuhkan. Gak bisa asal cabut aja seperti hubungan pacar karena sudah di sahkan oleh agama & negara.
  4. Mantan. Mantan ini status hubungan antara 2 individu yang pernah terikat hubungan pacar atau suami/istri, tetapi sudah putus/pisah karena hal tertentu.
  5. Selingkuhan. Selingkuhan ini adalah status hubungan yang terbentuk antara individu yang masing - masing individu atau salah satunya sudah terikat hubungan pacar atau suami/istri, kemudian individu ini menjalin hubungan baru dengan individu lain tanpa sepengetahuan atau persetujuan dengan pasangan sebelumnya. Sehingga ya hubungan gelap & main belakang lah

Nah, sehingga kita buat kesepakatan untuk menyamakan persepsi penggunaan definisi tersebut ya..

Nah, dari definisi tersebut, jadi status hubungan antara saya dengan si “bunga” ini sebenernya apa? Apakah teman, pacar, hubungan suami/istri, mantan, atau selingkuhan? Oke, kita bahas satu per satu ya..

Nah, masih ingat ndak yang saya lakukan ini sebenernya ngapain?

Nah, kalo anda masih ingat, yang saya lakukan ini sebenernya hanya & baru sebatas CHAT untuk KENALAN & NGAJAK KOMUNIKASI aja. Kemudian karena TIDAK ADA RESPON, sehingga antara saya dengan si “bunga” masih belum ada KESEPAKATAN/IKATAN/HUBUNGAN apa – apa.

Nah, sehingga ya antara saya dengan si “bunga” TIDAK ADA HUBUNGAN APA – APA atau si “bunga” ini BUKAN SIAPA – SIAPA SAYA.

Nah, udah jelas ya mengenai status hubungan antara saya dengan si “bunga” ini apa?

Nah, karena dugaanya, sempat muncul isu yang aneh – aneh kalo saya ini mantanya si “bunga”, pacarnya si “bunga”, kemudian ada isu saya selingkuh, buaya, dsb..

Lho, ini gimana to? Wong saya ini hanya & baru sebatas CHAT untuk KENALAN & NGAJAK KOMUNIKASI aja, kemudian saya ini sampe menulis tulisan saya kali ini ya TIDAK ADA RESPON juga, sehingga antara saya dengan si “bunga” ini masih belum ada KESEPAKATAN/IKATAN/HUBUNGAN apa – apa kok bisa – bisanya, muncul dugaan isu yang bilang saya pacarnya si “bunga” lah, mantanya si “bunga” lah, saya selingkuh lah, saya buaya lah, saya playboy lah, dst.

Wong komunikasi 2 arah aja belum, ketemu belum, jalan belum, jadian juga belum, kok bisa – bisanya misal ada atau muncul demikian? Oleh karena itu, gak jelas banget kan?

Nah, oleh karena itu, jujur saya ini juga merasa aneh & gak jelas ketika muncul isu yang demikian. Padahal saya hanya & baru sebatas CHAT untuk KENALAN & NGAJAK KOMUNIKASI aja. Kemudian sampe saya menulis tulisan saya kali ini, saya juga TIDAK MENDAPATKAN RESPON apa – apa. Sehingga ya antara saya dengan si “bunga” ini masih belum terjadi & ada KESEPAKATAN/IKATAN/HUBUNGAN apa – apa. Dengan kata lain, si “bunga” ini BUKAN SIAPA – SIAPA saya & saya TIDAK ADA HUBUNGAN APA -  APA dengan si “bunga”.

Nah, oleh karena itu, saya juga merasa aneh & gak jelas misal ada isu yang nyebut saya mantanya si “bunga”, pacarnya si “bunga”, kemudian saya selingkuh, saya playboy, saya buaya, intinya isu gak jelas & aneh – aneh lah.

Makanya, kalo ada isu yang aneh – aneh, jangan asal di telan aja. Pahami dulu inti permasalahan, substansi, konteks, & kronologinya. Kemudian selalu gunakan nalar & akal sehatnya. Karena kalo gak gitu, ya anda hanya akan di giring & terpropaganda dengan isu yang aneh – aneh & gak jelas lainya.

Oleh karena itu, dari awal saya tekankan, kalo ada isu yang aneh – aneh, jangan ragu, kuatir, atau takut untuk konfirmasi & klarifikas langsung ke saya aja. Daripada nanti anda terjebak dengan propaganda isu aneh – aneh yang lainya.

Saya sangat terbuka untuk itu & monggo silahkan konfirmasi & klarifikasi aja. Karena seharusnya, ndak ada yang perlu di kuatirkan misal untuk konfirmasi atau klarifikasi benernya gimana..

Kemudian seharusnya juga gak ada yang boleh nglarang. Karena ya ngapain orang mau konfirmasi & klarifikasi kok pake di larang segala? Kan seharusnya bebas orang mau konfirmasi & klarifikasi untuk tau benernya juga kok.

Nah, kalo ada yang nglarang atau nutup – nutupi, ya biasanya itu ada dugaan atau indikasi sesuatu yang ndak benernya..

Nah, oleh karena itu, kalo emang mau konfirmasi atau klarifikasi, jangan ragu atau kuatir, karena saya juga terbuka aja kok & malah seneng sebenernya agar tidak terjadi hoax atau fitnah yang tidak terkendali..

Sehingga kalo ada isu – isu yang lain, konfirmasi atau klarifikasi langsung aja ya. Saya terbuka aja & malah senang dengan itu.

Nah, pertanyaan selanjutnya, boleh ndak saya membangun hubungan dengan siapapun? Kemudian si “bunga” punya hak ndak untuk melarang saya berhubungan dengan siapapun? Nah, coba jawabanya apa? Hehehe..

Ya jelas boleh – boleh aja bos. Karena kita menjalin hubungan, berelasi, berserikat, berkumpul dengan siapapun, itu bagian dari hak asasi. Sehingga ya itu hak asasi setiap orang & gak boleh ada yang melarang. Kalo di langgar, ya artinya ada pelanggaran hak asasi disana.

Nah, kemudian kalo melihat status hubungan antara saya dengan si “bunga”, antara saya dengan si “bunga” kan ya gak ada hubungan apa – apa, dengan kata lain si “bunga” ini juga bukan siapa – siapa saya.

Nah, sehingga ya dia sama sekali gak punya hak atau berhak untuk melarang saya menjalin hubungan, relasi, berserikat, atau berkumpul dengan siapapun. Bukan urusan & gak ada hak nya si “bunga” untuk melarang saya. Karena ya siapa dia & apa haknya dia coba mau nglarang – nglarang saya?

Iya kalo saya pasanganya si “bunga”, mungkin masih ada sedikit alasan yang jelas lah, lha ini pasangan saya juga bukan, kemudian saya juga gak ada KESEPAKATAN/IKATAN/HUBUNGAN apa – apa dengan dia, kemudian dia juga bukan siapa – siapa saya. Sehingga ya dia sama sekali gak ada hak atau bahasa kerenya legal standing untuk melarang atau menghalang – halangi saya untuk menjalin hubungan, relasi, berserikat, atau berkumpul dengan siapapun.

Nah, sehingga ya gak ada haknya dia untuk nglarang saya untuk melakukan itu. Nah, kalo dia melakukan itu, ya artinya dia melanggar hak asasi saya.

Nah, oleh karena itu, sehingga sampe disini udah jelas ya..

Nah, kemudian disini dugaanya, si “bunga” ini menghembuskan isu yang aneh – aneh di belakang saya. Sehingga ya gak jelas juga sebenernya motif, alasan, tujuanya si “bunga” melakukan itu. Karena ya ngapain coba wong saya ini hanya & baru sebatas CHAT untuk KENALAN & NGAJAK KOMUNIKASI aja kok dugaanya udah di tuduh atau isukan macem – macem. Sehingga ya gak jelas banget sebenernya..

Nah, oleh karena itu, melalui tulisan ini, saya ingin menjawab sebagian dari dugaan isu – isu yang di hembuskan. Saya jawab satu per satu ya. Disini saya menggunakan sistem tanya jawab atau biasa disebut Q&A aja.

  1. Apakah akun instagram saya yang @ruddinss & @masss_odeee itu akun instagram asli saya? Ya, itu akun instagram asli saya. Untuk akun instagram asli saya sebelumnya yang @ruddinss, kemudian saya buat akun publik yang @masss_odeee sebagai media untuk konfirmasi atau klarifikasi misal ada hembusan isu - isu yang beredar. Tapi saya sudah deactivated akun IG saya yang @masss_odeee.
  2. Apakah saya menggunakan jasa admin untuk mengelola akun IG tersebut? Saya tidak menggunakan jasa admin untuk mengelola akun IG tersebut. Sehingga saya sendiri yang mengelolanya.
  3. Apakah foto yang saya pernah saya bagikan ke "bunga" itu foto asli saya atau foto orang lain? Itu foto asli saya sewaktu saya masih mahasiswa dulu. Saya tidak menambahkan filter atau obyek biar tambah mulus atau ganteng, ya udah aslinya ya seperti itu. Itu hanya saya crop aja. Kalo mau aslinya ya silahkan saya masih ada.
  4. Apakah foto saya tersebut hasil editan AI? Jaman segitu masih belum ada AI & saya tidak terbiasa untuk mengedit gambar atau foto menggunakan AI. Saya menggunakan AI kebanyakan yang format text seperti Chat gpt, google gemini, & grok, untuk tanya case tertentu. Bukan untuk mengedit gambar atau foto saya.
  5. Apakah foto yang saya posting di sosial media itu foto hasil comotan di google atau foto asli saya? Ya, beberapa memang ada yang hasil comot dari sumber lain, tapi biasanya saya menyebutkan sumber referensinya.
  6. Apakah desain gitar yang ada di IG saya itu asli desain saya? Ya, itu asli desain saya sendiri sewaktu jaman kuliah saya dulu.
  7. Apakah saya berniat untuk pansos? Waduh, maaf saya bukan tipikal yang seperti itu. Kalo saya pansos, biasanya saya sering posting foto saya bersama publik figur tertentu di media sosial. Nah, saya jarang melakukan itu. Sehingga saya bukan tipikal orang yang seperti itu.
  8. Apakah pekerjaan saya? Ya, saya saat ini sedang merintis usaha saya sendiri. Ya, masih kecil & mikro banget lah.
  9. Apakah saya intel atau mata² asing? Wah ini ngawur banget tuduhanya. Intinya riwayat saya jelas & silahkan aja buktikan kalo saya di tuduh intel atau mata – mata asing. Kalo emang gak terbukti ya itu murni fitnah yang ngawur, gak jelas, gak berdasar, & gak pernah terbukti.
  10. Apakah saya kelaparan & susah makan? Ya, Alhamdullillah bukanya sombong atau gimana - gimana, kalo sekedar makan aja ya Alhamdulillah selama ini tercukupi dengan baik lah. Alhamdulillah ya ndak sampe kelaparan juga.
  11. Apakah saya dapat asupan makanan dari orang lain? Ya, alhamdulillah selama ini untuk urusan makanan saya masih bisa memenuhi sendiri. Sehingga ya fitnah & ngawur misal ada yang bilang saya dapat asupan makanan dari orang lain.
  12. Ada isu saya kekurangan & dapat asupan nutrisi dari orang lain ndak? Ya, alhamdulillah, kebutuhan nutrisi saya mungkin masih terbilang cukup baik. Kalo mau test kesehatan ya silahkan aja. Saya sama sekali gak keberatan. Sehingga ya fitnah & ngawur misal ada yang bilang saya kekurangan nutrisi.
  13. Untuk pendidikan formal terkahir saya apa? Untuk pendidikan formal terakhir saya S1 jurusan teknik mesin. Ya, itu untuk gelar akademis formalnya. Kalo engineer2 banget ya ndak juga. Karena saya udah lama ndak sekolah & ketika lulus malah banyak berkecimpung dengan dunia marketing/pemasaran. Sehingga bukan engineer tulen lah. Cuman Insya Allah logika engineernya masih jalan & kalo di ajak ngobrol mungkin masih agak sedikit nyambung karena ada backgroud sekolah formalnya. Tapi kalo engineer tulen bukan lah.
  14. Apakah saya anak & cucunya si A,B,C, &D? Isu ngawur apa lagi nih? Hehehe.. Sebagai informasi aja, kakek & nenek kandung saya udah meninggal semua. Kemudian orang tua saya masih lengkap & tinggal sama saya di Surabaya.
  15. Apakah saya "kucing"nya si A,B,C,D? Wah, ini juga framing yang gak jelas & ngawur.
  16. Apakah saya lagi ngonten? Walah, saya bukan aliran content creator.
  17. Apakah saya cosplay? Walah isu apa lagi nih? Ngarang – ngarang & ngada – ngada aja lah kalo ada yang mengembuskan isu ini.
  18. Ada yang buat isu saya nipu ndak? Nah, untuk konteks ini, monggo barangkali ada yang merasa pernah saya tipu (terutama urusan karir & keuangan), silahkan konfirmasi langsung dengan saya aja. Pernah ada urusan apa sama saya, kemudian saya nipunya dimana. Nanti saya yang mempertanggung jawabkan. Kalo hanya desas desus/isu/gosip/tuduhan, tapi yang buat isu sendiri juga bingung saya nipunya dimana, ya apa yang saya pertanggung jawabkan? Masa saya harus mempertanggung jawabkan isu/tuduhan/gosip/fitnah yang gak jelas & berdasar? Kemudian masa saya harus mempertanggung jawabkan perbuatan yang memang gak saya lakukan? Sehingga kalo memang ada yang merasa demikian, monggo silahkan. Tapi kalo memang gak ada & cuman isu/gosip/tuduhan/fitnah aja, ya maaf. Justru saya ndak ngerti kenapa di isukan/tuduh/gosipkan/fitnah demikian.. Hehehe
  19. Apakah saya kepingin foto? Walah ngapain juga sih? Kan udah saya bilang saya bukan tipikal orang yang pansos. Sehingga ya itu tuduhan atau isu yang ngawur & ngarang – ngarang aja. Mungkin dia sendiri yang ke GR’an sehingga merasa atau di kira saya pingin foto dengan dia. Saran saya biasa aja lah, gak usah ke pedean & ke GR’an. Biasa aja

Nah, sehingga kurang lebih seperti itu mengenai jawaban dari dugaan kemungkinan isu – isu yang di hembuskan. Semoga sebagian udah terjawab.

Nah, dari jawaban saya tersebut, berapa yang bener & ndak bener? Ya kalo ada yang ndak bener ya berarti itu hanya fitnah aja..

Nah, mengenai isu data, dugaanya data pribadi saya ini di buka & sebar. Lha ini apa kaitan/hubungan & urusanya kok data pribadi saya dugaanya malah di buka & sebar? Sehinga menurut saya, itu perilaku atau perbuatan yang ilegal lho. Karena yang namanya data pribadi itu harus di lindungi & jaga. Gak boleh asal di buka & sebar sembarangan & se’enaknya. Apalagi tanpa seijin pemiliknya. Sehingga misal terdapat perilaku atau perbuatan yang demikian, ya setau saya itu termasuk dalam kategori pelanggaran data pribadi. Setau saya untuk konteks itu ada potensi konsekuensi hukumnya lho..

Nah, kemudian saya memahami untuk case saya ini ada pihak ketiga yang ikut terlibat. Ada yang pro & ada yang kontra. Ya, sebenernya saya agak kurang senang juga sih ketika terlalu banyak pihak yang terlibat untuk urusan yang sifatnya personal/pribadi. Karena ya bakal ruwet seperti yang udah saya duga dari awal..

Kemudian ketambahan lagi untuk case ini dugaan saya atau menurut keyakinan saya ada juga di tumpangi atau di tunggangi “kepentingan” atau di politisasi. Sehingga ya tambah ruwet jadinya.

Nah, kemudian lha wong antara saya dengan si “bunga” ini juga gak pernah ngobrol atau komunikasi 2 arah & KESEPAKATAN/IKATAN/HUBUNGAN apa – apa juga kok banyak banget yang terlibat. Sehingga ya saya gak seberapa seneng & risih juga sebenernya.

Kecuali kalo saya udah pernah ngobrol 2 arah, kemudian saya udah ada KESEPAKATAN/IKATAN/HUBUNGAN dengan si “bunga” mau support ya silahkan, saya malah senang.

Nah, untuk case ini kan antara saya dengan si “bunga” sendiri juga belum ada KESEPAKATAN/IKATAN/HUBUNGAN apa – apa & saya juga belum pernah ngobrol 2 arah dengan si “bunga” kok banyak banget yang terlibat? Sehingga ya saya kurang senang & risih sebenernya..

Nah, tapi saya tetap berterima kasih misal ada yang bantu untuk menengahi karena dugaanya atau sepertinya untuk case atau konteks dengan si “bunga” kemarin ini ada beberapa pihak yang ingin menunggangi atau numpang untuk di politisasi..

Sehingga ya saya terima kasih untuk pihak yang bisa menegaskan & memperjelas masalah itu. Karena kalo gak di tengahi dengan tegas & jelas, ya bisa melintir di politisasi kemana – mana. Seperti yang terjadi kan gitu, karena ada nuansa di politisasi, urusan gampang & sepele jadi melebar kemana – mana. Ke hal – hal yang gak ada kaitan & urusanya. Sehingga ya saya senang ketika ada pihak yang pro & tegas memberi batasan soal itu.

Nah, kemudian memang ada beberapa pihak yang dulu sempat ke Surabaya. Ya, sepengetahuan saya, mereka memang ada agenda atau kegiatan sendiri di Surabaya. Kemudian mereka juga tidak ada konfirmasi, kabar, atau janjian untuk ketemuan dengan saya.

Sehingga ya saya tidak menemui mereka ketika mereka ada agenda kunjungan ke Surabaya. Karena saya ya tidak tau mereka ingin menemui saya atau tidak, karena saya tidak pernah mendapatkan kabar, konfirmasi, atau perjanjian apapapun.

Nah, oleh karena itu, saya anggap mereka punya agenda sendiri di Surabaya & ndak ada keinginan atau rencana untuk menemui saya. Karena gak ada keinginan & rencana untuk ketemu saya, akhirnya ya ndak saya temui juga. Wong ndak ada kabar, konfirmasi, atau janjian apa – apa juga. Ya ndak?

Nah, sehingga jangan merasa saya ndak menghargai atau menghormati ketika saya ndak menemui mereka waktu mereka ada kunjungan kerja di Surabaya. Karena ya mana saya tau mereka kepingin ketemu saya atau ndak. Ndak ada konfirmasi, komunikasi, kabar, atau janjian ya udah, saya anggap mereka ada agenda sendiri di Surabaya & ndak ada rencana atau keinginan untuk ketemu saya juga. Sehingga ya waktu itu ya saya ndak menemui mereka juga.

Nah, oleh karena itu bukan saya ndak menghargai, menghormati, atau gimana ketika saya tidak menemui mereka saat mereka datang ke Surabaya untuk kunjungan kerja. Tapi saya ndak tau mereka ada rencana atau keinginan untuk ketemu saya atau ndak. Karena ya emang ndak ada konfirmasi, komunikasi, kabar, atau janjian yang saya terima. Oleh karena itu, waktu itu ya saya ndak menemui mereka ketika mereka ada agenda atau kunjungan kerja di Surabaya.

Nah, sehingga kalo emang kepingin untuk ketemuan,  ya konfirmasi, kabari, atau janjian aja. Saya sangat terbuka kok untuk ketemuan. Karena kalo ndak ada kabar, janjian, atau konfirmasi yang saya terima, ya gimana? Kemudian ya saya mana tau kalo mereka kepingin ketemu saya atau ndak. Ya ndak?

Nah, oleh karena itu, dari awal sebenernya gampang aja. Kalo ada yang mau di sampaikan, sampaikan langsung aja. Kalo mau ketemuan, kabari, konfirmasi, komunikasikan, & janjian aja. Karena kalo serba gak jelas ya gimana?

Mau ketemu siapa, mau ketemu diamana, mau bahas apa, mau ketemu kapan, kalo itu semua serba gak jelas ya gimana? Repot & susah juga kan?

Nah, oleh karena itu, intinya gampang aja. Kalo ada yang mau di sampaikan, sampaikan langsung aja. Kalo mau ketemuan, komunikasikan, konfirmasi, kabari, atau janjian aja. Saya sangat terbuka aja sebenernya.

Kalo itu semua gak ada ya udah, saya anggap gak ada apa – apa & jangan salahkan saya juga misal saya tidak memberikan respon apa – apa. Karena nanti ngambek lagi. Saya udah proaktif untuk membuka jalur komunikasi, kemudian gak di respon, ada yang mau di sampaikan gak mau di sampaikan langsung, pingin ketemuan gak mau konfirmasi, ngabari, komunikasi, atau janjian dulu, kemudian ndak saya temui nanti merasa & saya di anggap ndak menghargai. Lho lak ruwet & repot..

Oke, saya kira semua udah clear & jelas ya. Di puter – puter itu aja intinya sebenernya. Sehingga kalo masih belum paham, silahkan di baca lagi sendiri aja. Sehingga kurang lebih seperti itu ya..

Nah, kemudian untuk mempertajam pemahaman anda tentang case atau konteks ini, saya beri beberapa pertanyaan di bawah ini ya. Sehngga monggo bisa di pikir & jawab pertanyaanya agar anda bisa punya pemahaman yang lebih baik & tajam untuk case atau konteks ini.

  1. Jadi intinya kemarin ini urusan apa?
  2. Substansi, konteks, & kronologinya bagaimana?
  3. Kemudian yang saya lakukan ini sebenernya ngapain?
  4. Orang hanya & baru sebatas CHAT untuk KENALAN & NGAJAK KOMUNIKASI aja salah ndak? Kalo salah, salahnya dimana? Itu termasuk tindakan kriminal ndak?
  5. Apa saja yang membuat case ini kesanya jadi heboh & ribet banget?
  6. Siapa yang menjadikan urusan ini menjadi konsumsi publik?
  7. Apa saja Niat/Rencana/Wacana saya untuk ke Jakarta?
  8. Apa yang membuat saya membatalkan Niat/Rencana/Wacana saya untuk ke Jakarta?
  9. Orang membatakan Niat/Rencana/Wacana salah ndak?
  10. Apakah saya salah jika saya membatalkan Niat/Rencana/Wacana saya untuk ke Jkt kalo masih belum atau gak ada kesepakkatan atau konfirmasi apa - apa?
  11. Siapa yang salah misal saya membatalkan Niat/Rencana/Wacana untuk ke Jkt?
  12. Bagaimana jawaban saya terkait dengan dugaan isu janji manis, dst?
  13. Jadi status hubungan saya dengan si "bunga" ini sebenernya apa?
  14.  Boleh ndak saya menjalin hubungan atau relasi dengan orang lain?
  15.  Boleh ndak si "bunga" melarang saya untuk menjalin hubungan atau relasi dengan orang lain?
  16. Boleh ndak data pribadi di buka & sebarkan ke publik?
  17. Boleh ndak menutupi pelanggaran data pribadi?
  18. Kenapa saya tidak menemui pihak ketiga saat mereka ada kunjungan kerja di Surabaya?
  19. Saya salah ndak misal ndak menemui pihak ketiga ketika mereka kunjungan ke Surabaya?
  20. Mereka salah ndak misal mereka mungkin ngambek atau marah ketika mereka tidak saya temui sewaktu kunjungan ke Surabaya?
  21. Boleh ndak menyebarkan fitnah, mempropanda/memprovokasi orang lain?
  22. Apa konsekuensi hukumnya jika menyebarkan fitnah, propaganda, & provokasi orang lain?
  23. Boleh ndak orang lain untuk konfirmasi & klarifikasi ke saya secara langsung atas dugaan isu - isu yang di hembuskan?
  24. Boleh ndak orang lain nutup - nutupi propaganda/Provokasi isu - isunya? 
  25. Saya keberatan ndak misal mau ketemuan?
  26. Kalo mau ketemuan harus ngapain?
  27. Dst

Nah, jadi itu beberapa pertanyaan yang mungkin bisa membantu mempertajam pemahaman anda. Sebenernya masih banyak lagi pertanyaan - pertanyaan yang lain, tapi ndak usahlah, saya kira itu udah cukup membantu untuk mempertajam pemahaman anda untuk case dengan si "bunga" kemarin. 

Nah, sehingga kalo masih ada yang belum ngerti atau masih bingung, kemudian masih mengulang - ulang hal yang sama, kemungkinanya antara lain ya :

  1. Belum baca tulisan saya
  2. Sudah baca tapi belum paham

Sehingga ya udah silahkan di baca ulang sendiri aja.

Nah sehingga kalo dari saya kurang lebih seperti itu. Kalo ada yang lain – lain, saya tidak bertanggung jawab atas itu. Karena ya ngapain saya mempertanggung jawabkan atas hal yang tidak saya lakukan juga? Atau bertanggung jawab atas asumsi, karangan, imajinasi, spekulasi, isu, atau tuduhan dari orang lain juga? Masa saya harus mempertanggung jawabkan imajinasi, isu, asumsi, spekulasi, orang lain juga? Ya ndak make sense atau masuk akal logikanya..

Sehingga intinya siapa yang berbuat ya itu yang bertanggung jawab. Bukan saya yang ndak tau apa – apa & ndak ngapa – ngapain, kemudian saya yang di tuduh & mintai pertanggung jawaban atas imajinasi, asumsi, karangan, spekulasi, tuduhan, atau isu hasil dari orang lain. Ya udah ndak masuk & putus logikanya.

Nah, sehingga kalo dari saya kurang lebih seperti itu. Kalo ada yang di luar itu, itu bukan dari saya & saya tidak bertanggung jawab atas itu. Sehingga kalo ada yang lain – lain, silahkan konfirmasi atau klarifikasi langsung aja. Karena saya sangat senang & terbuka sekali dengan itu.

Nah, oke deh, saya kira cukup sekian dulu untuk tulisan saya kali ini. Selebihnya silahkan di baca & ulangi sendiri. Sehingga cukup sekian dulu ya..

Salam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Sedikit Drama Dengan si "Bunga"

Dream Theater

Steve Vai